Curug Genting, Potensi Batang yang Tersembunyi

Curug Genting Batang

Curug Genting Batang (foto: Krisnawilantara56)

CURUG Genting adalah salah satu potensi wisata alam yang terletak di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Curug ini sempat populer pada beberapa tahun yang lalu, namun sejak tahun 2009 tak lagi dikelola. Kini, lokasi wisata alam itu pun seakan berubah menjadi tempat asing yang terisolasi.

Curug Genting sesungguhnya merupakan lokasi yang menjanjikan pemandangan alam menarik. Nama Curug Genting diambil dari dua fenomena alam yang terdapat di lokasi ini, yaitu Curug (Air Terjun) dan Genting (Gua).

Di lokasi ini, selain terdapat air terjun, memang terdapat gua alam dengan kedalaman lebih kurang 17 meter. Di dalam gua tersebut mengalir air yang dingin melalui sela-sela bebatuan.

Air tejun Curug Genting sendiri terpampang megah dengan ketinggian 40 meter. Di sekelilingnya, terhampar hutan pinus yang asri.  Udara di sekitar curug yang segar dan lingkungan yang masih alami membuat destinasi ini cocok untuk dijadikan sebagai tempat melepas penat.

Lokasi dan Aksesibilitas Curug Genting

Obyek wisata Curug Genting terletak di Desa Bawang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah, tepatnya kurang lebih 38 km ke arah selatan dari Kota Batang. Untuk menuju ke lokasi destinasi ini, wisatawan dapat menempuh rute dari Batang-Bandar-Blado sejauh 25 km. Setelah itu, kemudian menyusuri jalan desa beraspal dari Blado menuju Bawang sejauh 5 km.

Atau bisa juga menempuh perjalanan dari Kota Banjarnegara lewat Singamerta Kecamatan Sigaluh, Madukara, Pagetan, dan Pejawaran. Perjalanan melewati rute tersebut jika menggunakan kendaraan bermotor dengan kecepatan 60 kilometer perjam akan memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Setiba di Bawang, pengunjung dapat dengan mudah mencapai lokasi Curug Genting. Selanjutnya, wisatawan harus berjalan kaki menuruni 500 anak tangga untuk menuju ke lokasi curug.

Meski begitu, perjalanan tak akan terasa melelahkan, karena di kanan-kiri jalan terhampar pemandangan alam berupa hutan yang asri dan berhawa sejuk. Udara yang masih segar niscaya akan membuat tubuh kita semakin bersemangat.

Potensi yang Tersembunyi

Satu hal yang menarik dari lokasi wana wisata ini adalah suasananya yang sunyi. Tempatnya memang tersembunyi dan di sekelilingnya masih sepi dari aktivitas ramai. Jika bukan di hari Minggu atau hari libur lainnya, tak banyak orang akan datang ke sana.

Bahkan, boleh dikatakan agak sulit bertemu orang di sana jika bukan di hari libur. Sehingga, destinasi ini bisa dikatakan sebagai potensi wisata yang tersembunyi.

Pengunjung Curug Genting
Pengunjung Curug Genting (foto: Krisnawilantara56)

Perjalanan menuju air terjun memang terasa membutuhkan perjuangan. Maka, untuk mempermudah pengunjung turun demi menikmati keindahan air terjun, selain telah membangun tangga setinggi sekitar 500 anak tangga, pihak pengelola juga menyediakan shelter sebagai tempat beristirahat sambil menikmati keindahan alam yang masih alami.

Dikelilingi Hutan Pinus

Sepanjang perjalanan turun menuju ke Curug Genting, pengunjung akan menyusuri dinding-dinding batu yang tinggi dan rawan, sehingga terdapat peringatan agar tidak menyentuh batu dinding ketika berjalan.

Lokasinya yang di dataran tinggi yang dikelilingi hutan pinus asri membuat hawa dingin akan sangat terasa manakala wisatawan berada di lokasi wana wisata Curug Genting. Di samping air terjunnya masih asli dan alami, air Curug Genting juga sangat dingin sampai menusuk tulang.

Karena itu, kepada wisatawan yang akan berkunjung ke wana wisata ini disarankan untuk mengenakan jaket atau baju yang agak tebal.

Sedikit menjauh dari curug dan kemudian menengadah ke atas, wisatawan akan dapat melihat efek pembiasan cahaya matahari seperti pelangi berwarna merah, kuning, hijau. Kehadiran bianglala itu di sana sungguh sangat menenteramkan hati.

Kondisi Curug Genting pun masih tetap natural. Hal itu terbukti dengan masih adanya hewan semisal lutung liar yang bergelantungan dan berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Bahkan, jika beruntung, wisatawan dapat juga melihat elang Jawa yang bertengger di dahan pohon yang ada di sepanjang jalan. Suasana alam seperti itulah yang biasanya banyak dicari pelancong dari kota besar.

Nilai Edukasi Curug Genting

Tak hanya alami, wana wisata Curug Genting juga memiliki nilai edukasi yang cukup tinggi. Nilai itu antara lain sudah terlihat dari pintu gerbang bergapura. Gapura berwujud wajah Betara Kala yang mulutnya menganga.

Mulut menganga itulah yang berfungsi sebagai pintu masuk. Gapura Betara Kala ini dilengkapi dengan aksara Jawa di bagian pelipisnya yang bertuliskan “Wening Manjing Gapuro Tunggal”. Tulisan tersebut merupakan sebuah sengkalan atau penandaan waktu yang biasa digunakan oleh orang Jawa Kuno.

Gapura Batara Kala
Gapura Batara Kala (foto: Krisnawilantara56)

Betara Kala yang mulutnya menganga itu juga memiliki filosofi tersendiri. Kala yang juga berarti waktu dengan mulutnya yang menganga itu berarti pula bahwa ketika kita melangkah memasuki gapura tersebut, pada prinsipnya kita telah masuk ke dalam mulut Sang Kala, dan kita telah termakan oleh waktu. Intinya, di dalam setiap langkah kita akan termakan oleh Sang Kala (waktu), dan waktu kita untuk hidup akan semakin berkurang.

Curug Mrawu

Sedikit melangkah melewati pintu gerbang Betara Kala, wisatawan akan melihat sebuah bangunan seperti bekas kolam yang telah tertutup oleh rimbunnya semak belukar. Kendati terlihat tak terawat dan tertutupi belukar, namun keberadaannya juga memancing eksotisme tersendiri. Sejumlah anak muda yang mengunjungi wana wisata Curug Genting pun kerap memanfaatkannya untuk berfoto.

Di dekat lokasi Curug Genting juga terdapat Curug Mrawu yang memiliki ketinggian sekitar 50 meter. Aliran air dari kedua curug ini nantinya akan menyatu dan menjadi sumber air utama bagi Sungai Mrawu, salah satu anak Sungai Serayu.

Pengalaman menyusuri wana wisata Curug Genting akan menjadi sebuah torehan tersendiri bagi wisatawan. Keindahan alami yang memesona namun tersembunyi di antara belukar kedamaian. Hmm..



loading...

Komentar