Gamal – Tanaman Multiguna yang Disukai Ternak

Pohon Gamal (Gliricidia sepium)

Pohon Gamal (Gliricidia sepium)

Alampriangan.com TANAMAN gamal (Gliricidia sepium) dimanfaatkan secara luas untuk berbagai keperluan. Batangnya dapat digunakan sebagai kayu bakar, arang, bahan bangunan, dan alat pertanian.

Gamal digunakan pula dalam berbagai sistem pertanaman, yaitu sebagai pohon pelindung dalam penanaman teh, kopi atau coklat serta sebagai penyangga untuk tanaman vanili, lada hitam, dan ubi jalar. Gamal juga bermanfaat suplemen pakan ternak.

Tanaman Multiguna

Gamal adalah tanaman multiguna yang paling banyak kedua dibudidayakan setelah lamtoro. Tanaman ini dapat digunakan untuk mereklamasi lahan yang gundul atau tanah yang ditumbuhi alang alang rapat. Konon, nama gamal merupakan akronim dari ganyang mati alang-alang.

Dalam beberapa kasus gamal dapat menghasilkan biomasa sama atau bahkan lebih banyak dari lamtoro. Salah satu sebab mengapa gamal ini cepat populer adalah resistensinya terhadap hama kutu loncat yang telah meluluhlantakan lamtoro di berbagai belahan dunia tropis.

Yang lebih umum digunakan, gamal sebagai pagar hidup, tanaman pupuk hijau pada pola tanam tumpang sari, sebagai penahan tanah pada pola tanam lorong dan terasering.

Dibawa Orang Eropa

Gamal berasal dari daerah Amerika Tengah dan Brazil. Di daerah asalnya digunakan sebagai pelindung tanaman cokelat dan dikenal dengan nama madre cacao. Oleh penjajah Eropa, tanaman ini dibawa ke Benua Asia dan ditanam di India dan Srilangka sebagai tanaman pelindung teh sejak tahun 1870-an.

Gamal masuk ke Indonesia melalui perusahaan perkebunan Belanda yang tertarik untuk menggunakannya sebagai tanaman pelindung di perkebunan teh di Medan pada tahun 1900-an.

Morfologi Gamal

Pohon Gamal berukuran kecil sampai sedang tinggi sekitar 10-12 m. Daun bersirip ganjil, panjang sekitar 30 cm. Helai daun 5-20 cm, berbentuk oval sampai bulat, panjang 2-7 cm, dan lebar 1-3 cm.

Bunga membentuk kelompok tangkai pada batang muda dan tua. Bunga keluar tunggal dengan 20-40 per tangkai, merah muda sampai ungu muda, bercampur putih.

Buah polong hijau dan kuning-cokelat muda ketika tua, panjang 0-18 cm, lebar 2 cm, biji 4-10, kuning-cokelat muda sampai cokelat dan hampir bulat.

Pakan Ternak

Gamal mengandung nilai gizi yang tinggi. Protein kasar berada di antara 18-30% dan nilai ketercernaan 50-65%. Daun gamal sebaiknya dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak.

Beberapa literatur menyebutkan pelayuan selama 12 – 24 jam terbukti meningkatkan kuantitas asupan pakan. Pada ternak, terutama sapi yang belum terbiasa terhadap gamal, perlu dilakukan pembiasaan terlebih dahulu. Caranya bisa dengan ternak dilaparkan dahulu. Selama setengah hari (dari pagi sampai sore) tidak diberi makan, tapi tetap diberi air minum yang cukup.

Baru pada malam hari diberikan daun gamal yang telah dilayukan dan kemudian rumput. Pada pemberian selanjutnya biasanya tidak perlu dilaparkan lagi, ternak sudah akan langsung menyantap daun gamal.

Daun gamal juga cukup baik untuk diawetkan dengan menggunakan metoda silase, baik dicampur dengan bahan lain maupun tunggal. Dalam beberapa percobaan awal yang dilakukan, silase campuran daun gamal, lamtoro, dan rumput gajah menghasilkan wangi dan rasa yang disukai ternak.

Khusus sebagai pakan ternak hewan ruminansia terutama sapi, gamal adalah kombinasi dan partner yang baik bagi rumput gajah.

Kemampuan Adaptasi Luas

Keunggulan lain dari gamal adalah kemampuan adaptasi yang sangat luas terhadap berbagai kondisi tanah dan klimat, mudah ditanam, dan mampu memproduksi biomasa yang cukup besar, selaras dengan kandungan nutrisi dan protein yang sangat tinggi.

Sedangkan kandungan racun dan zat antinutrisi, terutama bagi ternak monogastrik, walaupun perlu diwaspadai, merupakan kendala kecil bagi pemanfaatan gamal dibandingkan dengan manfaat yang bisa diperoleh. Apalagi dengan penanganan yang tepat (pelayuan) dan manajemen pakan yang baik, masalah ini dapat di minimalisir.

Gamal juga merupakan tanaman yang tidak rewel dan relatif aman dari serangan hama. Ada literatur yang menyebutkan organisme pengganggu tanaman berupa kutu kecil, aphid, dan beberapa jenis serangga. Namun, kerusakan yang ditimbulkannya tidak signifikan dan secara umum dapat diabaikan.

Pengembangbiakan Gamal

Meskipun dapat diperbanyak dengan biji, tapi lebih sering digunakan stek batang dalam usaha mengembangbiakan gamal.

Penanaman stek lebih baik berasal dari batang bawah tanaman yang cukup usia (di atas dua tahun), diameter batang cukup besar (di atas 4 cm) dengan panjang stek bervariasi, mulai dari 40 cm sampai 1,5 m. Jarak tanam juga bervariasi, antara 40 – 50 cm sampai dengan 1,5 – 5 m tergantung kebutuhan.

Penanaman dengan stek, tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan biji, namun sistem perakaran lebih dalam jika ditanam dengan biji daripada setek. Penanaman yang tepat dengan kedua cara tersebut, dapat memiliki daya tumbuh yang tinggi, 90 – 95 %.

Biasanya gamal ditanam pada tengah atau bahkan akhir musim hujan atau membuat guludan di sekitar lokasi penanaman apabila diperkirakan curah hujan tinggi.

Penanaman dapat dilakukan secara berselang-seling baris dengan rumput gajah dengan metode alley cropping atau ditanam memanjang sebagai pagar hidup. Dengan cara ini manfaat yang diperoleh dapat berlipat ganda. Selain pupuk hijau, penahan angin juga sebagai bank protein bagi ternak ruminansia.

Penanaman dengan Biji

Penanaman dengan biji dapat dilakukan secara langsung di lahan atau disemaikan dulu di bedengan atau polybag lalu dipindahkan ke lahan setelah tanaman mencapai tinggi 30 cm. Sebelum ditanam atau disemai, biji direndam terlebih dahulu dalam air hangat selama 12 jam, untuk mempercepat perkecambahan.

Tanaman dapat mencapai tinggi sekitar 3 m dan siap berbunga setelah berumur 6-8 bulan. Bila perlu dilakukan pemupukan ringan dengan urea, TSP, dan KCL untuk mempercepat pertumbuhan awal. Pertumbuhan selanjutnya akan berlangsung cepat sehingga mampu bersaimg dengan tanaman lain termasuk rumput/gulma.

Pemangkasan awal setinggi 30- 60 cm dari tanah setelah tanaman berumur 3-4 bulan dapat dilakukan untuk memperbesar diameter pangkal batang dan memperbanyak percabangan. Pemotongan hijauan dapat dilakukan setelah tanaman berumur 6-8 bulan, kemudian tanaman dapat dipotong setiap 6-8 minggu sekali.

Frekuensi pemotongan dapat lebih pendek jika gamal ditanam di lahan yang subur atau lebih panjang pada musim kemarau.

Penanaman dengan Stek

Penanaman gamal dengan stek batang tidak membutuhkan pengolahan tanah yang terlalu baik, yang penting tanah tersebut bebas dari gulma dan tidak terlalu keras.

Stek batang yang akan ditanam ada dua macam tergantung kadar air tanah dan kondisi lingkungan, yaitu stek panjang dan pendek. Setek panjang berukuran 1-2,5 m dan berdiameter 6-10 cm, diruncingkan kedua ujungnya dan digores-gores potongan sebelah bawahnya untuk merangsang tumbuhnya akar. Stek panjang ditanam sedalam 50 cm agar kuat.

Stek pendek berukuran 30-50 cm dan diperlakukan serupa dengan setek panjang. Setek pendek ditanam lebih kurang sepertiganya dalam tanah. Di daerah kering atau air tanah kurang, sebaiknya menggunakan stek panjang dan jika air tanah cukup, dapat digunakan setek pendek.

Hal ini dilakukan agar tanaman tidak kehabisan persediaan zat makanan dan air pada awal pertumbuhan, terutama sebelum akar keluar dan berfungsi secara normal. Namun untuk menghemat kebutuhan stek, sebaiknya menggunakan setek pendek tanpa mengurangi daya tumbuh.

Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliophyta
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae/Leguminosa/Papilionoideae
Upafamili : Faboideae
Genus : Gliricidia
Spesies : Gliricidia sepium



loading...

Komentar