Mengenal Pohon Selasihan, Wangi dan Bikin Kuat

Pohon Selasihan

Pohon Selasihan

POHON Selasihan memiliki wangi yang khas. Selain bersifat aromatis, pohon ini juga punya banyak manfaat dan menyimpan prospek pasar yang menjanjikan. Sayang, kini keberadaannya semakin langka. 

Ciri Khas wangi

Keharuman Selasihan berasal dari kulit dan kayunya sehingga kerap digunakan untuk bahan pengharum makanan. Kulit Selasihan juga bisa dijadikan sebagai obat penguat (tonikum) dan obat untuk penyakit hati.

Kayunya banyak dijadikan produk ekstrak. Minyak atsiri yang dihasilkannya mengandung safrol yang digunakan untuk bahan obat dan bahan pembuatan sabun.

Akarnya digunakan untuk meringankan demam dan bisa dipakai oleh ibu-ibu yang baru melahirkan.

Nama Lain

Selasihan memiliki nama ilmiah Cinnamomum porrectum (Roxb.) Kosterman. Jenis pohon ini mempunyai nama sinonim yaitu Cinnamomum parthenoxylon (Jack), Cinnamomum Nees dan Cinnamomum sumatranum (Miq.) Meiiner.

Di wilayah nusantara pohon ini dikenal dengan nama antara lain madang loso, gadis, kayu lada, medang lesa, medang sahang (Sumatera); kipedes, kisereh, selasihan (Jawa); marawali, merang, parari, pelarah, peluwari (Kalimantan); serta palio (Sulawesi).

Tempat Tumbuh

Pohon Selasihan tumbuh secara berkelompok pada hutan-hutan primer dan sekunder di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. 

Pohon ini dapat tumbuh pada berbagai tipe iklim dan berbagai jenis tanah yang punya sistem drainase baik. Tersebar dari daerah dataran rendah hingga pegunungan dengan kisaran tinggi umumnya 10 – 2000 meter di atas permukaan laut.

Pemanfaatan Selasihan

Kayu Selasihan cocok digunakan sebagai bahan bangunan, kayu lapis, mebel, lantai, dinding, kerangka pintu dan jendela, alat olahraga, alat musik, perkapalan, kayu profil (moulding) dan berbagai jenis barang kerajinan.

Kulit selasihan kerap digunakan untuk pengharum makanan karena berbau harum aromatis.

Ciri-ciri Selasihan

Pohon selasihan umumnya berukuran sedang hingga besar. Tingginya bisa mencapai 35 – 45 meter dengan tinggi bebas cabang hingga 10 – 25 meter serta diameter hingga 90 – 105 cm. Batangnya bundar, lurus dan umumnya tidak berbanir.

Permukaan kulit batangnya berwarna kelabu atau kelabu coklat sampai krem, beralur dangkal merapat, mengelupas kecil-kecil. Sedang kulit dalam berwarna coklat kemerahan yang semakin dalam menjadi merah muda atau putih.

Pohon ini berdaun tunggal yang letaknya sedikit berhadapan atau spiral. Daun muda berwarna merah dan berubah hijau jika sudah tua. 

Memiliki perbungaan majemuk pada ketiak daun dan umumnya di bagian dekat ujung ranting. Bunganya kecil, dengan mahkota bunga kuning muda dan umumnya tidak berbulu.

Buahnya berbentuk lonjong. Buah muda berbentuk bulat berwarna hijau yang akan berubah coklat kehitaman ketika buah sudah tua.

Pembuahan

Pohon Selasihan biasanya berbuah pada bulan November. Di Jawa, buah selasihan bisa dijumpau di antara bulan Juni sampai Desember. 

Buahnya sering dimakan oleh monyet, bajing, kelelawar dan burung. Hal ini membuat biji Selasihan tersebar.

Jumlah biji Selasihan bisa mencapai 20.000 butir per kilo gramnya. Namun tidak dapat disimpan lama, karena daya perkecambahannya cepat menurun.

Sifat Kayu

Kayu Selasihan memiliki gubal dengan tebal 2 – 9 cm berwarna kuning muda.  Kayu teras berwarna coklat kemerah-merah mengkilat atau coklat kekuning-kuningan.

Pada saat  masih segar, Selasihan berbau aromatis, namun lambat laun akan menghilang dan akan muncul kembali jika dibuat sayatan baru.

Harga selasihan terbilang cukup mahal. Hal ini, disebabkan keberadaannya yang kini sudah semakin langka. 

Pembibitan

Selsihan dapat dibudidaykan secara generatif dan vegetatif. Secara generatif dilakukan dengan menyemaikan biji di persemaian atau mencabut anakan alam untuk dipelihara di persemaian. 

Selama proses persemaian dilakukan dengan penyiraman setiap pagi hari dan penjagaan dari serangan hama. 

Pembibitan dari cabutan anakan hasil permudaan alam dilakukan dengan mengambil anakan yang jumlah daunnya 2 sampai 5 lembar dengan tinggi kurang dari 15 cm.

Bibit siap tanam setelah tingginya sekitar 40 cm. Sebelum dipindahkan ke lapangan, terlebih dahulu dibiasakan dengan mengurangi jumlah air yang disiramkan selama lebih kurang 2 minggu.

Secara vegetatif dilakukan dengan stek yang diambil dari tunas akar atau tunas trubusan dan tunas batang bagian atas (tunas orthotrop). Bahan stek dipotong sepanjang sekitar 8 cm, dengan dua daun yang dipotong dua pertiganya.

Stek dioles dengan hormon penumbuh akar pada bagian pangkalnya kemudian ditanam pada medium. Stek ditempatkan dalam sungkup plastik yang dinaungi paranet.

Pola Tanam

Jarak tanam yang umum digunakan adalah 3 x 3 m. Lubang tanam dibuat 30 x 30 cm dan sebaiknya ditambahkan kompos.

Bibit ditanam tidak boleh terlalu dangkal atau pun terlalu dalam, tetapi sebatas leher akar. Hati-hati membuka bibit dari wadahnya agar tidak ada akar yang terlipat. Jika ada akar yang terlalu panjang dapat dipotong sebagian.

Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan cara membabat belukar dan membersihkan tanaman merambat yang melilit batang. Selanjutnya dilakukan penjarangan pada lokasi yang terlalu rapat dengan cara menebang tanaman yang pertumbuhannya kurang baik.

Pertumbuhan

Pertumbuhan jenis ini tergolong cepat. Pada sebuah percobaan, umur 24 – 28 tahun di Jawa mempunyai riap tinggi 0,7 – 1,0 m/tahun dan riap diameter batang 1,2 cm/tahun. Pada umur 20 tahun, diameter pohonnya sudah mencapai sekitar 24 cm. 

Sementara itu, di Arboretum Manggala Wanabakti Jakarta, pohon kisereh memiliki sudah berdiameter 62 cm pada umur 23 tahun.

Klasifikasi ilmiah
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Magnoliidae
Ordo : Laurales
Famili : Lauraceae
Genus : Cinnamomum
Spesies : Cinnamomum partenoxylon (Jack.) Meissn



loading...

Komentar