Pohon Mahoni – Peneduh Yang Berkhasiat Obat

Pohon Mahoni

Pohon Mahoni

POHON Mahoni dikenal masyarakat Jawa sejak lama. Tumbuhan ini adalah penghasil kayu keras yang banyak digunakan untuk membuat perabot rumah tangga atau barang ukiran. Kayunya juga sering dibuat penggaris karena tak mudah berubah. Getahnya baik untuk bahan perekat.

Pohon Mahoni Sebagai Peneduh

Secara luas, Mahoni digunakan sebagai peneduh jalan.  Orang yang berjasa mempopulerkan pohon ini konon adalah Jenderal Herman Willem Daendels, Gubernur Hindia Belanda (1808-1811). Ketika Daendels membangun jalan post dari Anyer hingga Panarukan, Pohon Mahoni dan Pohon Asem ditanam di pinggir jalan untuk dijadikan penghias sekaligus peneduh.

Inisiatif Daendels menanam Mahoni di pinggir jalan, bukan tanpa perhitungan. Pohon ini terbukti mampu mengurangi polusi udara sekitar 47% – 69% sehingga disamping sebagai pohon pelindung, Mahoni juga berfungsi sebagai filter udara dan penahan daerah tangkapan air.

Daun-daun Mahoni akan menyerap polutan-polutan di sekitarnya. Sebaliknya, ia melepaskan oksigen (O2) yang membuat udara di sekitarnya menjadi segar. Ketika hujan turun, tanah dan akar-akar Mahoni akan mengikat air yang jatuh, sehingga menjadi cadangan air.

Pengembangbiakan

Mahoni termasuk pohon besar dengan tinggi bisa mencapai 35-40 m serta diameter bisa mencapai 125 cm. Batangnya lurus berbentuk silindris dan tidak berbanir. Ketika masih muda, kulit batang berwarna abu-abu dan halus.   Namun setelah tua berubah menjadi berwarna cokelat kehitaman serta beralur dangkal seperti sisik.

Penyebaran Mahoni dilakukan dengan biji. Setelah umurnya antara 7-8 tahun mahoni sudah mulai berbunga. Buahnya berbentuk bulat telur.  Ketika masih muda berwarna hijau dan setelah tua menjadi cokelat.

Dalam buah yang berlekuk lima itu berisi biji mahoni yang bentuknya pipih dengan ujungnya agak tebal berwarna cokelat kehitam-hitaman.

Pada saat buah itu sudah tua sekali, kulit buahnya akan pecah dengan sendirinya sehingga biji-bijinya yang pipih beterbangan tertiup angin dan berjatuhan ke tanah lalu tumbuh menjadi pohon mahoni baru.

Penyebaran Mahoni

Mahoni dikelompokkan menjadi dua, yaitu: Mahoni Berdaun Kecil (Swietenia mahagoni Jacg.) dan Mahoni Berdaun Besar (Swietenia macrophylla King). Keduanya termasuk dalam keluarga Meliaceae.

Mahoni berdaun besar dapat tumbuh baik pada lahan dengan ketinggian bervariasi antara 0-1.000 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan 1.600-4.000 mm per tahun dan tipe iklim A sampai D.

Pada umumnya Mahoni menyukai tanah yang bersolum dalam. Tumbuhan ini juga masih dapat bertahan pada tanah yang sewaktu-waktu tergenang air.

Pohon ini biasa ditemukan tumbuh liar di hutan jati dan tempat-tempat lain yang dekat dengan pantai.  Mahoni dapat tumbuh dengan subur di pasir payau dekat dengan pantai dan menyukai tempat yang cukup sinar matahari langsung.

Pohon ini juga termasuk jenis tanaman yang mampu bertahan hidup di tanah gersang sekalipun. Walaupun tidak disirami selama berbulan-bulan, mahoni masih mampu untuk bertahan hidup.

Banyak Dibudidayakan

Sejak tiga dasawarsa terakhir, Pohon Mahoni mulai dibudidayakan masyarakat karena banyak manfaatnya. Kayu Mahoni memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kualitas kayunya keras dan sangat baik untuk furnitur, barang-barang ukiran dan kerajinan tangan.

Karena sifatnya yang tidak mudah berubah kayu ini juga sering dibuat penggaris. Kualitas kayu Mahoni berada sedikit di bawah kayu jati sehingga sering dijuluki sebagai primadona kedua dalam pasar kayu.

Pemanfaatan lain dari tanaman Mahoni adalah kulitnya yang dapat dipergunakan untuk mewarnai pakaian. Kain yang direbus bersama kulit mahoni akan menjadi kuning dan tidak mudah luntur. Sedangkan getah mahoni yang disebut juga blendok dapat dipergunakan sebagai bahan baku lem, dan daun mahoni untuk pakan ternak.

Melancarkan Perdaran Darah

Tidak hanya dari kayu dan kulitnya, masyarakat juga mengenal Mahoni sebagai tanaman yang berkhasiat obat.  Penemuan biji Mahoni sebagai vitamin dan obat-obatan pertama kali oleh ahli biokimia, Dr. Larry Brookes, pada tahun 90-an.

Beberapa penyakit yang dapat diringankan dengan biji Mahoni ini antara lain antara lain lain hipertensi atau tekanan darah tinggi, kurang nafsu makan, demam, kencing manis atau diabetes mellitus, masuk angin, ekzema serta Rematik.

Biji Mahoni memiliki zat bernama flavonolds dan saponins. Flavonolds berguna untuk melancarkan peredaran darah, mengurangi kolesterol, meringankan penimbunan lemak pada saluran darah, mengurangi rasa sakit, pendarahan dan lebam, serta bertindak sebagai antioksidan untuk menyingkirkan radikal bebas.

Sementara itu, Saponins memiliki khasiat sebagai pencegah penyakit sampar, mengurangi lemak di badan, membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mencegah pembekuan darah serta menguatkan fungsi hati.

Di Malaysia mahoni bahkan mendapat perhatian lebih. Masyarakat negeri itu menyebut buah Mahoni sebagai sky fruit dan dijadikan bahan dasar vitamin maupun obat-obatan alami. Sebutan sky fruit itu karena buahnya menunjuk ke arah langit.

Menurunkan Gula Darah

Farmakologi Cina mengenal mahoni sebagai tanaman yang memiliki sifat pahit, dingin, antijamur, antipiretik atau penurun panas serta mampu menurunkan tekanan darah tinggi.

Penggunaannya yaitu dengan mengeringkan biji mahoni kemudian digiling sampai menjadi serbuk lalu diseduh dengan air panas.

Mahoni juga disebut memiliki kemampuan sebagai astringent (mengeringkan) sehingga dapat digunakan untuk mengendapkan protein selaput lendir usus dan membentuk suatu lapisan pelindung yang selanjutnya menghambat laju peningkatan glukosa darah.

Laurentia Mihardja, peneliti pada Center For Research and Development of Disease Control, NIHRD, pernah melakukan sebuah penelitian efek biji mahoni terhadap menurunkan glukosa darah. Hasilnya, pemberian ekstrak mahoni dosis 45 mg/160 g bb setelah 7 hari menunjukkan hasil berbeda yang signifikan dibanding pelarut serta tidak berbeda dengan glikazide 7,2 mg/200 g bb. Sehingga disimpulkan, mahoni dapat menurunkan glukosa darah pada hewan percobaan.



loading...

Komentar