Taman Nasional Gunung Ciremai

Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) adalah sebuah wilayah pelestarian atau perlindungan yang terletak di kabupaten kuningan, cirebon, Jawa Barat, Indonesia. gunung ini merupakan gunung tertinggi di jawa barat dengan ketinggian sekitar 3.073 meter diatas permukaan laut, gunung ini merupakan gunung soliter, mksudnya gunung yang terpisah dengan gunung-gunung lainya.

Taman Nasional Gunung Ciremai

Taman Nasional Gunung Ciremai

Taman Nasional Gunung Ciremai

Kawasan TNGC ini sebagian besar masuk dalam wilayah Kabupaten Kuningan dengan luas sekitar 8.931,27 ha, dan sebagian di wilayah Kabupaten Majalengka dengan luas sekitar 6.927,9 ha. Namun luas kawasan TNGC yang sah secara hukum dan sesuai dengan SK Mentri perhutanan adalah sekitar ± 15.500 Ha. Di sebelah utara kawasan gunung ciremai berbatasan dengan Kabupaten Cirebon; sementara batas di sisi bagian timur terletak di kecamatan Cilimus, Jalaksana, dan Kramatmulya. Di selatan, batas-batasnya berada di wilayah Kadugede, Nusaherang, Cigugur, serta Darma, di barat berada di wilayah Majalengka.

Jalur Pendakian Gunung Ceremai

Apabila kita melakukan ekspedisi pendakian, maka kita akan melewati beberapa zona yang, seperti dari perkebunan penduduk, hutan pegunungan bawah & atas dengan pohon-pohon yang cukub besar, hutan pinus, hutan dengan dataran tinggi yang banyak semak belukar termasuk bunga edelweis dan juga zona tanpa tumbuhan berdekatan dengan puncak gunung.

Untuk bisa sampai ke puncak Gunung Ceremai kita bisa melalui banyak jalur pendakian. Namun, ada jalur yang sudah populer serta mudah aksesnya ialah Desa Palutungan dan Desa Linggarjati Kawasan Kabupaten Kuningan, dan Desa Apuy di Kawasan Kabupaten Majalengka. Selain itu ada juga jalur pendakian yang jarang digunakan, ialah Desa Padabeunghar yang terdapat pada perbatasan Kuningan dan Majalengka di sebelah utara. Di Kuningan ada sebuah komunitas pecinta alam yang bernama Anak Kuningan Alam Rimba (AKAR) yang sudah biasa membantu memberikan informasi maupun pemanduan untuk mendaki gunug Ceremai.


Vegetasi

Hutan-hutan yang masih tetap alami di Gunung Ceremai tinggal lagi dibagian atas. Di samping bawah, terlebih di lokasi yang pada saat lantas dikelola juga sebagai lokasi hutan produksi Perum Perhutani, hutan-hutan ini sudah dirubah jadi hutan pinus (Pinus merkusii), atau semak belukar, yang terbentuk disebabkan kebakaran berkali-kali serta penggembalaan. Saat ini, beberapa besar hutan-hutan dibawah ketinggian … m dpl. dikelola berbentuk wanatani (agroforest) oleh orang-orang setempat.

Seperti lazimnya di pegunungan di Jawa, makin seorang mendaki ke atas di Gunung Ciremai ini didapati berturut-turut tipe-tipe hutan pegunungan bawah (submontane forest), kemudian hutan pegunungan atas (montane forest) serta hutan subalpin (subalpine forest), serta lalu wilayah-wilayah terbuka tidak berpohon di seputar puncak serta kawah.

Lebih jauh, berdasar pada situasi iklim mikronya, LIPI (2001) membedakan lingkungan Ciremai berdasarkan dataran tinggi basah serta dataran tinggi kering. Juga sebagai misal, hutan di lokasi Resort Cigugur (jalur Palutungan, sisi selatan gunung) termasuk juga beriklim mikro basah, serta di Resort Setianegara (samping utara jalur Linggarjati) beriklim mikro kering.

Dengan cara umum, jalur-jalur pendakian Palutungan (dibagian selatan Gunung Ciremai), Apuy (barat), serta Linggarjati (timur) berturut-turut dari bawah ke atas bakal lewat lahan-lahan pemukiman, ladang serta kebun punya masyarakat, hutan tanaman pinus yang bercampur dengan ladang garapan dalam lokasi hutan (tumpangsari), serta paling akhir hutan hujan pegunungan. Sedang di jalur Padabeunghar (utara) vegetasi itu juga ditambah dengan semak belukar yang berasosiasi dengan padang ilalang. Pada ke empat jalur pendakian, hutan hujan pegunungannya bisa dibedakan lagi atas tiga jenis yakni hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan atas serta vegetasi subalpin di seputar kawah. Terkecuali vegetasi subalpin yang disangka sudah terganggu oleh kebakaran, hutan-hutan hujan pegunungan ini kondisinya masih tetap relatif utuh, hijau serta memperlihatkan stratifikasi judul yang cukup terang.

Di sana juga banyak terdapat hewan liar seperti anjing gunung (ajag), elang jawa, macan tutul, kera, kijang, lutung dan satwa endemik lainnya.



loading...

Komentar