Sonokeling, Pesona Elegan Si Kayu Hitam

Pohon Sonokeling

Pohon Sonokeling

POHON sonokeling (Dalberga latifolia) merupakan salah satu jenis tanaman kehutanan yang selain baik untuk penghijauan juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena kayunya tergolong kayu keras dan indah.

Keindahan sonokeling dapat terlihat dari teksturnya, sehingga kayu ini banyak dimanfaatkan untuk perlengkapan rumah, baik untuk lantai maupun furnitur.

Pohon ini merupakan anggota dari suku Fabaceae. Dalam dunia perdagangan kayu, sonokeling  dikenal sebagai Indian rosewood, Bombay blackwood atau Java palisander (Ingg.), palisandre de l’Inde (Prc.). Di Jawa, dikenal juga variannya yang dinamai sonobrit dan sonosungu.

Semakin Mahal

Budidaya Sonokeling cukup menjanjikan, meski termasuk investasi jangka panjang, yaitu di atas 10 tahun. Prinsipnya, semakin tua pohonnya maka harga kayunya pun semakin mahal. Meskipun, kini kayu Sonokeling muda juga sudah banyak digunakan terutama dalam pembuatan lantai kayu.

Masa panen kayu sonokeling agar kualitas kayunya maksimal adalah setelah pohon berusia 20 tahun. Walau begitu, bisa saja ia dibiarkan bahkan sampai 50 tahun. Namun perlu diperhatikan bahwa semakin lama investasi, resikonya pun semakin besar.

Awet dan Tahan Rayap

Sonokeling termasuk ke dalam kayu keras dengan bobot sedang hingga berat. Berat jenisnya antara 0,77-0,86 pada kadar air sekitar 15%. Teksturnya cukup halus, dengan arah serat lurus dan kadang kala berombak. Kayu ini juga awet, tahan terhadap serangan rayap kayu kering dan sangat tahan terhadap jamur pembusuk kayu.

Kayu Sonokeling
Kayu Sonokeling

Kayu terasnya berwarna coklat agak lembayung gelap, dengan coreng-coreng coklat sangat gelap hingga hitam. Kayu gubal berwarna keputih-putihan hingga kekuningan, 3-5 cm tebalnya, terbedakan dengan jelas dari kayu teras.

Pada proses olahan, kayu sonokeling agak sukar dikerjakan dengan tangan, namun sangat mudah dengan mesin. Kayu ini dapat diserut sehingga permukaannya licin dan dapat pula dikupas dan diiris untuk membuat venir dekoratif. Kayu ini juga dapat dibubut, disekerup dan dipelitur dengan hasil yang baik. Namun, kayu ini sukar diberi bahan pengawet.

Bibit dari akar tua

Budidaya pohon Sonokeling relatif mudah. Bibit pohon ini bisa didapat dari akar pohon Sonokeling yang sudah tua. Biasanya, akar pohon yang sudah berusia puluhan tahun akan tumbuh tunas-tunas baru. Kemudian tunas dipisahkan dari induk akar dan didiamkan sekitar dua minggu.

Setelah itu, tunas bisa ditanam di polybag dan akan tumbuh besar nantinya. Setelah berukuran sekitar 30 centimeter hingga 1 meter, tunas sudah bisa dijadikan bibit dan ditanam di lahan perkebunan.

Ketika akan ditanam, unsur hara di tanah harus sudah lengkap. Untuk itu tanah harus digemburkan terlebih dahulu dan diberi pupuk kompos. Supaya tumbuh maksimal, jarak tanam antar pohon sekitar 2 x 2 m – 2 x 3 m. Dengan begitu, pertumbuhan pohon tidak terganggu pohon lain dan batangnya bisa lurus. Pada masa awal tanam, pohon Sonokeling masih membutuhkan pemupukan intensif.

Loading...

Selama satu hingga dua tahun pertama, tanaman sebaiknya diberi pupuk dua minggu sekali. Setelah itu, pemupukan cukup dua kali setahun, yakni menjelang musim hujan dan menjelang musim kemarau.

Pola pemupukan terus dilakukan selama bertahun-tahun, hingga pohon siap dipanen. Jika menginginkan kayu yang sangat keras dan kokoh, pohon sonokeling bisa ditebang pada usia 20 tahun hingga 50 tahun.

Bisa Dipanen Lebih dari Sekali

Setelah pohon tua ditebang, akarnya jangan dicabut. Pasalnya, pada bagian akar itu nanti banyak tumbuh tunas baru yang bisa dijadikan calon bibit. Akan lebih baik jika akar ini dijadikan induk yang akan terus menghasilkan tunas baru.  Namun, bagi Anda yang belum memiliki pohon indukan berusia tua, maka alternatif paling mudah bisa dengan membeli bibit di pasar.

Saat ini para pembudidaya sonokeling ada yang memanen pada usia sekitar lima tahun. Namun, harga jualnya lebih murah karena usia kayunya lebih muda. Menariknya, pohon yang sudah dipanen saat usia lima tahun itu masih bisa tumbuh lagi untuk dipanen kedua kalinya. Setelah itu, umumnya pohon tidak tumbuh lagi.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya pohon Sonokeling ini. Pertama, pohon sebaiknya ditanam di lahan dengan ketinggian di bawah 600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Selain itu, gulma dan tanaman pengganggu yang ada di sekitar pohon harus rajin dibersihkan. Terutama pada masamasa awal pertumbuhan hingga pohon berukuran 8 meter.

Tumbuh liar di hutan-hutan Jawa

Pohon Sonokeling berukuran sedang hingga besar dengan tinggi 20-40 m dengan gemang mencapai 1,5-2 m. Tajuk lebat berbentuk kubah, menggugurkan daun. Pepagan berwarna abu-abu kecoklatan, sedikit pecah-pecah membujur halus. Daun majemuk menyirip gasal, dengan 5-7 anak daun yang tak sama ukurannya, berseling pada porosnya.

Anak daun berbentuk menumpul (obtusus) lebar, hijau di atas dan keabu-abuan di sisi bawahnya. Bunga-bunga kecil, 0,5-1 cm panjangnya, terkumpul dalam malai di ketiak. Buah polong berwarna coklat, lanset memanjang, meruncing di pangkal dan ujungnya. Berisi 1-4 butir biji yang lunak kecoklatan, polong tidak memecah ketika masak.

Di Indonesia, sonokeling hanya didapati tumbuh liar di hutan-hutan Jawa Tengah dan Jawa Timur pada ketinggian di bawah 600m dpl., terutama di tanah-tanah yang berbatu, tidak subur, dan kering secara berkala. Tumbuh berkelompok, namun tidak terlalu banyak, di hutan-hutan musim yang menggugurkan daun-daunnya di waktu kemarau.

Menyukai Tanah Dalam dan Lembap

Sebaran alami sonokeling lainnya adalah anak benua India, mulai dari kaki Pegunungan Himalaya hingga ujung selatan semenanjung, terutama di hutan-hutan monsun yang kering di wilayah-wilayah Karnataka, Kerala, dan Tamil Nadu, di Ghats Barat.

Meskipun demikian, tumbuhan ini hidup baik di daerah dengan curah hujan antara 750 – 5.000 mm pertahun, di atas aneka jenis tanah, walau lebih menyukai tanah-tanah yang dalam dan lembap, yang memiliki drainase baik.

Sonosiso (Dalbergia sissoo Roxb. Ex Benth.) adalah kerabat dekat sonokeling yang menghasilkan kayu yang hampir serupa kualitasnya. Dalam perdagangan dikenal sebagai kayu sonosissoo atau secara umum dimasukkan ke dalam kelompok rosewood. 

Marga Dalbergia sendiri meliputi lebih kurang 100 jenis, yang menyebar di kawasan tropika dan ugahari di semua benua. Sebagian besar jenis (70 spesies) didapati di Asia, dengan pusat keanekaragaman di sekitar Himalaya. Kebanyakan berupa perdu atau liana berkayu, sebanyak 18 jenisnya berupa pohon yang menghasilkan kayu yang berharga.

Klasifikasi Ilmiah Sonokeling

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae
Upafamili: Faboideae
Genus: Dalbergia
Spesies: Dalbergia latifolia



loading...

Komentar