Transformasi Pariwisata Ciamis Setelah Kehilangan Pangandaran

Transformasi Pariwisata Ciamis Setelah Kehilangan Pangandaran

Pangandaran sebagai salah satu tulang punggung Pariwisata Ciamis ‘memisahkan diri’ dari Kabupaten Ciamis pada tahun 2013. Sejak saat itu Ciamis seolah kehilangan ruh.

Tetapi, aktivis pariwisata di Kabupaten Ciamis tidak kehilangan akal. Banyak ikon-ikon kebudayaan dari sisa-sisa peninggalan Kerajaan Galuh yang kemudian diangkat ke dalam wisata budaya. 

Toto Marwoto, Kadis Pariwisata Kabupaten Ciamis seperti dikutip dari https://galuh.id mengatakan jika sekarang ini pariwisata di Kabupaten Ciamis difokuskan dalam wisata budaya dan wisata buatan.

Toto menyebut tentang beberapa festival yang telah menjadi agenda tahunan di Kabupaten Ciamis. Contohnya Festival Bebegig yang mengangkat Bebegig Sukamantri yang menjadi ikon baru Kabupaten Ciamis.

bebegig sukamantri ikon baru pariwisata Ciamis'
Bebegig Sukamantri ikon baru pariwisata Ciamis

Selain itu, Toto juga menyebut tentang wisata buatan sebagai contoh, Bendungan Leuwikeris yang sedang dibangun di Ciamis disebut Toto bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata baru.

Setelah Bebegig Sukamantri, ikon baru seperti Mobukay Rajadesa yang memanfaatkan kekhasan kecamatan Rajadesa mulai diperkenalkan dalam berbagai festival di luar Ciamis.

Rajadesa yang dikenal sebagai sentra anyaman di Ciamis dimanfaatkan oleh salah satu pemuda Ciamis untuk membuat semacam robot menggunakan anyaman dari bambu seperti ayakan, dudukuy, hihid dan lain sebagainya.

Berbicara tentang Budaya Ciamis erat kaitannya dengan sejarah panjang Ciamis sebagai pusat kerajaan Galuh.

Objek wisata yang sudah ada seperti Situs Karang Kamulyan dimanfaatkan untuk menggelar berbagai acara seperti yang terbaru di tahun 2018 adalah Festival Pesona Galuh Nagari yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Perdamaian Dunia.

Baca juga  Icakan Ciamis, Destinasi Wisata yang Sempat Menjadi Ikon Ciamis, Ditutup

Karang Kamulyan sendiri merupakan situs peninggalan Kerajaan Galuh yang dianggap sebagai cikal bakal kerajaan Pajajaran.

Sementara itu, Toto mengatakan jika Pariwisata Ciamis tidak mungkin hanya digerakkan oleh Dinas Pariswisata, tetapi perlu ada sinergi antara Dinas-dinas terkait hingga para pelaku wisata.

Toto memberi contoh tentang industri Pariwisata yang harus didukung pula misalnya oleh Dinas Pekerjaan Umum yang memiliki kewajiban untuk membangun jalan menuju tempat pariwisata agar lebih mudah diakses.

Selanjutnya, Dinas Perhubungan yang mempunyai kewenangan mengatur lalu lintas dan rambu-rambu menuju tempat pariwisata, tak kalah pentingnya yaitu para investor yang bisa ditarik untuk membangun pariwisata di Kabupaten Ciamis.

Selain itu, ada pula para pelaku pariwisata misalnya pengusaha daerah yang menyediakan hotel dan akomodasi lainnya yang menunjang kegiatan para wisatawan yang akan berkunjung.

Lalu para pedagang di sekitar lokasi pariwisata harus dikondisikan agar tidak terjadi harga-harga di tempat wisata lebih mahal daripada harga di luar tempat wisata, hal ini justru akan merusak Pariwisata Ciamis.