Curug Citambur Cianjur – Rute, Daya Tarik, Mitos & Tiket 2018 4.67/5 (3)

Curug Citambur terletak di Kabupaten Cianjur sebelah selatan.  Curug ini memiliki keistimewaan yaitu tingginya yang mencapai sekitar 130 meter.

Memiliki tiga tingkatan curug, yaitu 12 meter, 116 meter dan 2 meter.   Terletak pada ketinggian 1.400 mdpl menyebabkan airnya sangat dingin dan selalu diliputi kabut tipis.  Suara jatuhan airnya sangat keras bergemuruh.

Lingkungannya yang masih asli disertai panorama yang indah akan membuat Anda terpesona.

Sayangnya karena berada pada tebing yang curam serta aliran air yang deras, kita tidak bisa berenang di bawahnya.  Namun tetap saja Anda harus ke sana.

Alamat Curug Citambur

Curug CItambur (Foto: Fb Titi Bachtiar Geo)

Citambur Waterfall (Foto: Fb Titi Bachtiar Geo)

Curug Citambur terletak di Desa Karang Jaya, Kecamatan Pagelaran, Cianjur Selatan. Dari Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung jaraknya kira-kira 40 kilometer ke arah selatan.

Lokasi persis air terjun ini dapat ditemukan di dalam peta dan koordinat GPS: 7° 11’ 35.25” S 107° 14’ 2.20” E.

Sebenarnya akses menuju Citambur tak terlalu sulit. Hanya, lokasinya memang cukup jauh dari jalan utama.  Namun, jangan khawatir karena sepanjang perjalanan anda akan dihibur oleh perkebunan teh nan hijau.

Disarankan menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju ke sana.  Bila menggunakan Google Map, maka peta Curug Citambur adalah sebagai berikut:

 

Rute Curug Citambur

Rute dari Bandung

Untuk menuju Citambur, dari Bandung, ambil arah menuju Kecamatan Ciwidey.  Setiba di Perkebunan Teh Rancabali ambil jalur yang ke kanan menuju ke perkebunan teh Sinumbra.

Dari sini anda akan melalui Desa Cipelah Kecamatan Rancabali selanjutnya Desa Karang Jaya dimana Curug Citambur berada.

Perjalanan dari perkebunan Sinumbra menuju ke Desa Karang Jaya membutuhkan waktu kira-kira satu setengah jam dengan kendaraan bermotor.

Kondisi jalan yang dilalui menuju lokasi air terjun itu bisa dikatakan cukup baik.  Meskipun terdapat  beberapa bagian jalan yang berbatu dan berlubang.

Jalan Menuju Curug Citambur (Foto: fb Titi Bachtiar Geo)

Jalan Menuju Curug Citambur (Foto: fb Titi Bachtiar Geo)

Selanjutnya, cari Kantor Desa Karang Jaya karena gerbang masuk Curug tepat berada di depan kantor desa tersebut.  Beberapa meter dari gerbang masuk, Anda akan langsung disambut oleh Situ Rawasuro.

Rute Curug Citambur dari Jakarta

Sementara itu rute dari Jakarta bisa menggunakan dua pilihan.  Bisa lewat puncak atau lewat Bandung.

Bila melalui Puncak, maka masuk ke Tol Jagorawi dan keluar di gerbang Ciawi. Selanjutnya melewati jalur puncak sampai ke pertigaan tugu Cianjur Jago lalu putar balik menuju terminal Pasir Hayam.

Belok kiri ke arah Cibeber sampai Kota Kecamatan Pagelaran.  Melewati Desa Pusaka Jaya sampai ke Desa Karang Jaya.  Total waktu yang dihabiskan sekitar 8 jam termasuk istirahat dan makan.

Sementara bila lewat Bandung maka dari Tol Cipularang lalu belok ke Tol Soroja. Keluar di Tol Soreang.  Dari sana lanjut ke atas yaitu ke Ciwidey.  Selanjutnya melewati jalur seperti disampaikan di atas.

Situ Rawasuro

Situ Rawasuro curug citambur

Situ Rawasuro

Situ Rawasuro dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai penampung air untuk irigasi. Sayang, kondisi lingkungan di sekitarnya tidak terlalu bersih.

Hal ini perlu menjadi perhatian pihak pengelola, bila Curug Citambur memang akan dijadikan salah satu destinasi wisata unggulan. Demikian juga dengan tempat parkir yang belum tertata.

Dari tempat parkir air terjun Curug Citambur sudah terlihat di sebelah kanan.  Pemandangan yang indah berupa pepohonan pinus yang hijau dan hamparan sawah dengan segera menyejukkan mata anda.

Di sebelah kiri depan air terjun terdapat bukit dengan pohon beringin di puncaknya. Semua itu menambah kuat kesan alami Curug Citambur yang masih alami, belum tersentuh sisi komersil.

Keistimewaan Curug Citambur

Curug Citambur Memiliki Ketinggian 130 meter

Citambur Waterfall Memiliki Ketinggian 130 meter (Instagram @ahdi_h369)

Tinggi curug ini mencapai 130 meter. Di bagian bawah air terjun terdapat semacam kolam alam tempat curahan air yang jatuh dari ketinggian. Tingginya tempat jatuh air Curug Citambur itu membuat volume air jatuhan curug tersebut begitu besar.

Bahkan diperkirakan, Curug Citambur ini lebih tinggi dan volume air jatuhannya lebih besar ketimbang Curug Cimahi di daerah Cisarua, Kabupaten Bandung, Jawa Barat atau Curug Malela di Bandung Barat.

Volume air jatuhan yang cukup besar itu membuat tak ada yang berani mandi atau berenang di bawah air jatuhannya.

Sebab, dipastikan badan kita akan terasa sakit sekali jika tertimpa air jatuhan yang menimpa tubuh dengan volume sangat besar. Selain itu, airnya juga terasa sangat dingin.

Panorama yang Indah

Tetapi, terlepas dari ketiadaan orang yang mau mandi di bawah air terjun itu, Curug Citambur tetap memberikan pesona yang indah dan elok, sehingga seru untuk dijadikan tempat berlibur. Mengapa?

Karena panorama Curug Citambur begitu alami dan indah natural. Suasana dan udaranya juga menyejukkan, karena dikelilingi hamparan sawah dan perkebunan teh. Cocok untuk warga kota yang ingin mencari suasana bernuansa alam nan asri.

Panorama indah di sekitar Curug Citambur dilengkapi suasana khas alam.  Pemandangan di sekitar air terjun hampir selalu diliputi oleh kabut tipis. Suara air  jatuhan Curug Citambur terdengar berdebum dengan begitu keras dan membahana.

Suara air jatuhan yang demikian keras itulah yang membuat Curug Citambur terasa berbeda ketimbang air terjun lain.

curug citambur

Keindahan Citambur (instagram @muhammadsidik99)

Sesekali terdengar pula suara kicauan burung kutilang di antara deburan air, seakan kian memperkaya simponi suara alam di sekitar kawasan itu.

Sejumlah orang yang dijumpai di lokasi air terjun ini menuturkan, pesona Curug Citambur memang terletak pada suasananya yang sangat alami.

Menurut mereka, berada di Curug Citambur serasa berada di alam yang masih “perawan” dan belum banyak disentuh oleh tangan manusia.

Suasana alam yang masih asli di antara debur Curug Citambur itu menurut mereka, menjadikan objek wisata itu masih eksotis. Keeksotisan itulah yang memberikan suasana berbeda di antara tempat-tempat wisata lain yang pernah mereka datangi.

Kondisi “alam perawan” itu bahkan tak urung menghadirkan pula suasana mistis di antara debur-debur Curug Citambur.

Mitos Curug Citambur

Versi Kesatu

Mengapa air terjun tersebut bernama Citambur, ada dua versi.  Yang pertama berasal dari suara air jatuhan dari air terjun yang jatuh ke kolam di bawahnya terdengar “berdebum” dalam irama tertentu layaknya seperti tambur yang sedang ditabuh.

Saat itu volume air terjun yang jatuh itu jauh lebih besar dari sekarang. Dan kolamnya masih cukup luas. Sehingga, suara jatuhnya air menimbulkan bunyi seperti alat musik tabuh yang dipukul berulang-ulang setiap kali air jatuh menimpa kolam.

Kini, seiring menyusutnya volume air, bunyi itu tak lagi terdengar begitu keras seperti dulu.

Versi Kedua

Versi kedua asal usul nama Citambur ini berhubungan dengan sesuatu yang lebih dekat dengan mitos yang berkembang di tengah masyarakat.

Menurut cerita, konon lokasi curug tersebut dulu termasuk wilayah Kerajaan Tanjung Anginan dengan penguasa bernama Prabu Tanjung Anginan.

Pusat Kerajaan Tanjung Anginan konon berada di Pasirkuda, yang kini termasuk wilayah Desa Simpang dan Karang Jaya, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur.

Daerah ini berbatasan dengan Kecamatan Pasirkuda. Dugaan tentang pusat kekuasaan yang terletak disana muncul karena terdapat batu yang berbentuk kursi.

curug citambur

Sudut lain Citambur (Instagram @nanafahrezia_93)

Warga sekitar meyakini batu berbentuk kursi itu sebagai tempat duduk raja. Batu tersebut terdapat disebuah bukit yang berbentuk kuda.

Konon, hal itu pula yang mendatangkan nama Pasir Kuda. Sebab, pasir di dalam bahasa Sunda berarti bukit atau gunung kecil.

Ketika Kerajaan Tanjung Anginan tersebut berdiri, sang raja kerap mandi di curug itu. Setiap kali sang raja akan mandi ke curug tersebut, ia selalu diiringi oleh rombongan kerajaan.

Sepanjang perjalanan, rombongan kerajaan yang mengiringi sang raja selalu dilengkapi dengan suara tetabuhan dari tambur yang ditabuh para pengawal.

Suaranya terdengar berdebum. Suara berdebumnya alat musik tabuh itu terdengar hingga jarak yang cukup jauh sehingga warga dapat mengenali bahwa jika terdengar suara tambur yang berdebum itu, artinya rombongan raja sedang menuju curug.

Sejak itulah, warga Pasir Kuda dan sekitarnya lantas menyebut air terjun itu sebagai Curug Citambur. Namun, versi kedua ini hingga kini lebih merupakan mitos semata. Sulit dibuktikan akan kebenarannya.

Sebab, warga dan para sesepuh di daerah tersebut tidak mengetahui, Kerajaan Tanjung Anginan tersebut berdiri pada abad ke berapa. Di dalam buku-buku sejarah yang ada pun nama Kerajaan Tanjung Anginan tidak dikenal.

Sehingga, tidak dapat dipastikan apakah di daerah Cianjur memang benar-benar pernah ada sebuah kerajaan bertajuk Kerajaan Tanjung Anginan.

Mungkin, keberadaan Kerajaan Tanjung Anginan hanyalah sebuah legenda. Tetapi yang pasti, di Citambur sesekali ada orang yang datang untuk bersemedi sebagai sarana untuk mendapatkan hajat yang mereka inginkan.

Mereka yang datang untuk bersemedi itu sepertinya beranggapan bahwa di curug itu ada kekuatan supranatural. Ini satu hal lagi yang membuat curug ini menjadi lekat dengan mitos.

Tiket Masuk Curug Citambur

Tiket masuk Curug Citambur 2018 adalah sebesar Rp 7 ribu per orang.  Dengan catatan, harga tersebut bisa berubah sewaktu-waktu ya..

 

Demikin informasi mengenai Curug Citambur.  Selain curug ini kunjungi juga curug-curug lain di wilayah Cianjur yang tidak kalah cantiknya seperti Curug Cikondang dan Curug Ngebul.

Berikan penilaian Anda!