Dimanakah Kota Pakuan Pajajaran?

Lukisan Kuno Prasasti Batu Tulis di Pakuan Pajajaran

Lukisan Kuno Prasasti Batu Tulis di Pakuan Pajajaran

PAKUAN Pajajaran adalah kota kuno yang dulu merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Sunda, sebuah kerajaan yang berdiri pada abad VII hingga abad XVI dengan wilayah mencakup Jawa Barat bagian barat.

Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja di abad XV, kerajaan Sunda disatukan dengan Kerajaan Galuh yang berpusat di Kawali, Ciamis, dan penggabungan 2 kerajaan kembar ini dikenal dengan nama Kerajaan Pajajaran.

Oleh karena itu Kota Pakuan juga dikenal dengan Pakuan Pajajaran. Pada masanya, kota ini merupakan kota yang cukup besar dengan penduduk hampir 50 ribu jiwa dan merupakan kota terbesar kedua di Jawa setelah Demak. Lokasi kota Pakuan berada di wilayah kota Bogor, Jawa Barat sekarang.

Dibangun Prabu Tarusbawa

Kota Pakuan berdiri sejak tahun 669 M, yaitu ketika Prabu Tarusbawa membangun pusat kekuasaan baru menggantikan Tarumanagara di hulu sungai Cipakancilan, dimana di daerah ini sungai Ciliwung dan sungai Cisadane berdekatan dan berjajar. Pusat kekuasaan baru ini dinamakan sebagai Sundapura dengan kompleks keraton yang indah bernama Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati.

Kota ini terus diperbarui oleh raja-raja berikutnya.  Beberapa yang tercatat adalah Rahiyang Banga (739-766 M) dengan membangun benteng dan parit-parit pertahanan, Prabu Susuktunggal (1382-1482) serta Sri Baduga Maharaja (1482-1521).

Dihancurkan Banten

Pakuan hancur pada tahun 1579 akibat serangan Kesultanan Banten. Pasukan Maulana Yusuf yang sebenarnya adalah juga buyut Sri Baduga, dengan susah payah akhirnya bisa menembus benteng kota Pakuan yang dikenal tangguh, meski saat ini kekuatan militer kerajaan ini sudah begitu lemahnya.

Kota Pakuan diratakan dengan tanah. Tempat pelantikan raja-raja Sunda yang bernama Palangka Sriman Sriwacana sebagai lambang kerajaan diboyong ke Banten. Pakuan Pajajaran pun sirna dari bumi.

Para bangsawan dan pengisi kota kemudian mengungsi ke berbagai arah. Sebagian menuju timur dipimpin oleh Senopati Jaya Perkasa dengan membawa beberapa pusaka kerajaan antara lain Mahkota Binokasih dan menyerahkannya ke Prabu Geusan Ulun di Sumedanglarang. Sebagian lain menuju barat dan mendirikan pusat kerajaan baru di Gunung Pulosari Pandeglang dipimpin oleh Prabu Nusiya Mulya.

Ditemukan Kembali

Tahun pun terus berganti. Pakuan hilang dari ingatan orang. Yang tersisa hanya mitos dan dongeng.

Sampai pada tahun 1687 atau seratus delapan tahun setelah Pakuan hancur, Scipio, seorang perwira muda VOC yang senang sejarah tertarik untuk menyelidiki. Pada tahun tersebut ia pun melakukan ekspedisi ke reruntuhan kota Pakuan dengan mengajak beberapa anak buahnya.

Scipio masuk dari arah tenggara Pakuan. Dia berangkat dari Kedunghalang, Parung Angsana (Tanah Baru) menuju Cipaku dengan melalui Tajur, kira-kira lokasi Pabrik “Unitex” sekarang. Dalam catatannya ia menyebutkan jalan yang ia lewati adalah lahan yang bersih dan di sana banyak sekali pohon buah-buahan dan nampak pernah dihuni.

Tajur dalam basa Sunda kuno memang berarti kebun. Jadi dapat disimpulkan lokasi itu merupakan kebun kerajaan yang ditumbuhi oleh berbagai macam buah-buahan, disebut Tajur Agung. Sebagai kebun kerajaan, Tajur Agung menjadi tempat bercengkerama keluarga kerajaan.

Ketika melintasi Ciliwung Scipio mencatat bahwa ia melewati dua buah jalan dengan pohon buah-buahan yang berderet lurus dan 3 buah runtuhan parit yang dikatakan pembantunya sebagai peninggalan dari Raja Pajajaran.

Diterkam Harimau

Dari perjalanannya tersebut, Scipio menyimpulkan bahwa jejak Pakuan yang masih bisa mencirikan kerajaan hanyalah Situs Batutulis. Artinya sudah tidak tampak sama sekali bekas keraton yang menurut Tom Pires “dikelilingi oleh 330 tiang pilar kayu berukuran sebesar tong anggur, dengan tinggi 4 pathom atau sekitar 9 meter, di sertai berbagai ukiran indah di atasnya”.

Penemuannya tersebut dilaporkan oleh Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs kepada atasannya di Belanda. Dalam laporan yang ditulis tanggal 23 Desember 1687, ia memberitakan telah menemukan lokasi yang menurut kepercayaan penduduk adalah bekas istana raja Pajajaran dengan kondisi berkabut dan dijaga oleh sejumlah besar harimau.

Bahkan salah seorang anggota ekspedisi ada yang mati diterkam harimau di dekat Cisadane. Rupanya, setelah lama ditinggalkan, Situs Batutulis berubah menjadi sarang harimau. Dan inilah yang kemudian mungkin menumbuhkan mitos tentang adanya hubungan antara Pajajaran yang sirna dengan keberadaan harimau.

Ekspedisi Winkler

Laporan Scipio menarik para pimpinan VOC. Tiga tahun kemudian dibentuk tim ekspedisi yang dipimpin oleh Kapiten Adolf Winkler yang terdiri dari 16 orang kulit putih, 26 orang Makasar serta seorang ahli ukur. Seperti Scipio, Winkler bertolak dari Kedunghalang melalui Parung Angsana (Tanah Baru) lalu ke selatan.

Ia juga melewati dua buah jalan yang ditulis Scipio. Winkler menyebutkan jalan tersebut sejajar dengan aliran Ciliwung lalu membelok 90 derajat membentuk siku-siku. Sementara Scipio menganggap jalan yang berbelok tajam ini sebagai dua jalan yang bertemu.

Setelah melewati sungai Jambuluwuk (Cibalok) dia melintasi parit yang dalam dan berdinding tegak yang tepinya membentang ke arah Ciliwung dan kemudian sampai ke jalan menuju arah tenggara. Sepuluh menit kemudian ia sampai di lokasi Tajur Agung selanjutnya ia menemukan pangkal jalan yang ditanami pohon durian yang panjangnya hanya 2 menit perjalanan dengan berkuda santai.

Dari Tajur Agung Winkler menuju ke daerah Batutulis menempuh yang menuju ke gerbang kota Pakuan (lokasi dekat pabrik paku “Tulus Rejo”). Di situlah letak Kampung Lawanggintung pertama sebelum pindah ke “Sekip” dan kemudian lokasi sekarang (bernama tetap Lawanggintung).

Jadi gerbang Pakuan pada sisi ini ada pada penggal jalan di Bantarpeuteuy (depan kompleks perumahan LIPI). Lawang dalam basa Sunda berarti “gerbang.” Mungkin dulu di sana tumbuh pohon gintung.

Lokasi Keraton Pajajaran

Di Batutulis Winkler menemukan jalan berbatu yang sangat rapi membentang ke arah paseban tua. Menurut penjelasan para pengantarnya, di situlah letak istana kerajaan. Di sana ditemukan pula tujuh pohon beringin. Di dekat jalan tersebut Winkler menemukan sebuah batu besar yang dibentuk secara indah.

Saat ini, antara jalan berbatu dengan batu besar yang indah dihubungkan oleh “Gang Amil” yang bagian utaranya bersambung dengan Balekambang. Balekambang (artinya rumah terapung) adalah bangunan di tengah kolam besar, biasanya sebagai tempat bercengkrama raja.

Dengan ciri-ciri tersebut, lokasi keraton Pajajaran harusnya terletak pada lahan yang dibatasi oleh Jalan Batutulis (sisi barat), Gang Amil (sisi selatan), bekas parit yang sekarang dijadikan perumahan (sisi timur) dan benteng batu yang ditemukan Scipio sebelum sampai di tempat prasasti (sisi utara).

Balekambang terletak di sebelah utara (luar) benteng itu. Pohon beringinnya mestinya berada dekat gerbang Pakuan di lokasi jembatan Bondongan sekarang.

Loading...

Arca Purwakalih

Dari Gang Amil, Winkler memasuki tempat Batutulis. Ia mencatat bahwa bahwa Istana Pakuan itu dikelilingi oleh dinding dan di dalamnya ada sebuah batu berisi tulisan sebanyak 8 1/2 baris dalam keadaan berdiri. Jadi setelah terlantar selama kira-kira 110 tahun, batu-batu itu masih berdiri pada posisi semula.

Selanjutnya Winkler menuju ke tempat arca Purwakalih. Di sana terdapat tiga buah patung yang menurut Pleyte adalah patung Purwa Galih, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung.

Nama trio ini terdapat dalam Babad Pajajaran yang ditulis di Sumedang (1816) pada masa bupati Pangeran Kornel, kemudian disadur dalam bentuk pupuh 1862. Penyadur naskah babad mengetahui beberapa ciri bekas pusat kerajaan seperti adanya pohon campaka warna yang terletak tidak jauh dari alun-alun.

Van Riebeeck

Orang Belanda lain yang tertarik pada Pakuan adalah Abraham van Riebeeck.  Ia adalah putera Jan van Riebeeck, pendiri Cape Town di Afrika Selatan. Penjelajahannya di daerah Bogor dan sekitarnya dilakukan dalam kedudukan sebagai pegawai tinggi VOC dilakukan sebanyak 3 kali. Dua kali sebagai Inspektur Jenderal dan sekali sebagai Gubernur Jenderal.

Pada tahun 1703 van Riebeeck mengambil rute Benteng – Cililitan – Tanjung – Serengseng – Pondokcina – Depok – Pondokpucung (Citayam) – Bojongmanggis (dekat Bojonggede) – Kedunghalang – Parungangsana (Tanah Baru).  Sementara pada 1704: Benteng – Tanahabang – Karet – Ragunan – Serengseng – Pondokcina dan seterusnya sama dengan rute 1703.

Serta pada tahun 1709 ia memakai rute: Benteng – Tanahabang – Karet – Serengseng – Pondokpucung – Bojongmanggis – Pagerwesi – Kedungbadak – Panaragan.

Jalur Berbeda

Berbeda dengan Scipio dan Winkler, van Riebeeck selalu datang dari arah Empang. Karena itu ia dapat mengetahui bahwa Pakuan terletak pada sebuah dataran tinggi. Hal ini tidak akan tampak oleh mereka yang memasuki Batutulis dari arah Tajur.

Dari catatannya diketahui bahwa Alun-alun Empang ternyata bekas alun-alun luar pada zaman Pakuan yang dipisahkan dari benteng Pakuan dengan sebuah parit yang dalam (sekarang parit ini membentang dari Kampung Lolongok sampai Cipakancilan).

Tanjakan Bondongan yang sekarang, menurut van Riebeeck, dulunya merupakan jalan masuk yang sempit dan mendaki sehingga hanya dapat dilalui seorang penunggang kuda atau dua orang berjalan kaki.

Sementara tanah rendah di kedua tepi tanjakan Bondongan adalah parit-bawah yang terjal dan dasarnya bersambung kepada kaki benteng Pakuan.  Jembatan Bondongan dulu merupakan pintu gerbang kota.  Di belakang benteng Pakuan pada bagian ini terdapat parit atas yang melingkari pinggir kota Pakuan pada sisi Cisadane.

Saleh Danasasmita

Adalah Saleh Danasasmita (1933 – 1986) seorang sastrawan dan ahli sejarah kelahiran Sumedang yang tekun meneliti sejarah Pakuan.  Ia menulis pencarian letak kota ini dalam sebuah tulisan berjudul “Mencari Gerbang Pakuan.” Tulisan tersebut dijadikan rujukan sejarah tentang Pakuan Pajajaran oleh banyak orang.

Prasasti Batutulis sendiri sudah mulai diteliti sejak tahun 1806 dengan pembuatan “cetakan tangan” untuk Universitas Leiden, Belanda. Upaya pembacaan pertama dilakukan oleh Friederich tahun 1853. Sampai tahun 1921 telah ada empat orang ahli yang meneliti isinya. Akan tetapi, hanya Cornelis Marinus Pleyte yang mencurahkan pada lokasi Pakuan, yang lain hanya mendalami isi prasasti itu.

Pleyte awalnya menduga kampung Batutulis sebagai lokasi keraton.  Tetapi kemudian ia meluaskan lingkaran lokasinya meliputi seluruh wilayah Kelurahan Batutulis yang sekarang. Pleyte mengidentikkan puri dengan kota kerajaan dan kadatuan Sri Bima Narayana Madura Suradipati dengan Pakuan sebagai kota.

Menurut Babad Pajajaran, Pakuan terbagi atas “Dalem Kitha” (kota dalam) dan “Jawi Kitha” (kota luar).  Pleyte saat itu masih menemukan benteng tanah di daerah “Dalem Kitha” yang membentang ke arah Sukasari pada pertemuan Jalan Siliwangi dengan Jalan Batutulis.

Peneliti lain seperti Ten Dam menduga letak keraton di dekat kampung Lawang Gintung (bekas) Asrama Zeni Angkatan Darat.  Pantun Bogor mengarah pada lokasi bekas Asrama Resimen “Cakrabirawa” (Kesatrian) dekat perbatasan kota.

Daerah itu dikatakan bekas Tamansari kerajaan bernama “Mila Kencana”. Namun hal ini juga kurang ditunjang sumber sejarah yang lebih tua. Selain itu, lokasinya terlalu berdekatan dengan kuta yang kondisi topografinya merupakan titik paling lemah untuk pertahanan Kota Pakuan.

Kota yang Tangguh

Sebagai pusat kerajaan, kota Pakuan didesain untuk tidak mudah diserang musuh.  Dan ini terbukti bahwa balatentara Banten dengan kekuatan besar pun harus berkali-kali melakukan serangan sebelum akhirnya dapat menjebol benteng Pakuan.

Padahal saat itu kekuatan milter Pakuan sudah sangat lemah karena kepemimpinan yang bobrok.  Ini bisa tergambar dari cerita yang diurai di Naskah Parahyangan. Bahkan ada versi yang mengatakan bahwa jebolnya benteng bukan disebabkan oleh hebatnya militer lawan, tetapi karena pengkhianatan.

Tangguhnya Pakuan dikarenakan kota ini dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya. Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar.

Penduduk Lawanggintung yang diwawancara Pleyte menyebut sisa benteng ini “Kuta Maneuh”.  Jadi untuk menaklukkan kota, selain harus menghadapi para prajurit Pajajaran yang gagah perkasa, juga harus menghadapi benteng alam yang sulit untuk dilalui pada saat itu.

Batas-batas Kota Pakuan

Penelitian Saleh Danasasmita menemukan bahwa benteng Kota Pakuan berawal dari Lawangsaketeng yang pernah dipertanyakan Pleyte.  Lawang Saketeng, menurut Coolsma, dapat diartikan sebagai pintu gerbang lipat yang dijaga dalam dan luarnya. Kampung Lawangsaketeng sendiri tidak terletak tepat pada bekas lokasi gerbang.

Benteng pada tempat ini terletak pada tepi Kampung Cincaw yang menurun terjal ke ujung lembah Cipakancilan yang kemudian bersambung dengan tebing Gang Beton di sebelah Bioskop Rangga Gading.

Setelah menyilang Jalan Suryakencana, membelok ke tenggara sejajar dengan jalan tersebut. Deretan pertokoan antara Jalan Suryakencana dengan Jalan Roda di bagian ini sampai ke Gardu Tinggi sebenarnya didirikan pada bekas fondasi benteng.

Selanjutnya benteng tersebut mengikuti puncak lembah Ciliwung. Deretan kios dekat simpangan Jalan Siliwangi – Jalan Batutulis juga didirikan pada bekas pondasi benteng. Di bagian ini benteng tersebut bertemu dengan benteng Kota Dalam yang membentang sampai ke Jero Kuta Wetan dan Dereded.

Benteng luar berlanjut sepanjang puncak lereng Ci Liwung melewati kompleks perkantoran PAM, lalu menyilang Jalan Raya Pajajaran, pada perbatasan kota, membelok lurus ke barat daya menembus Jalan Siliwangi (di sini dahulu terdapat gerbang), terus memanjang sampai Kampung Lawang Gintung.

Di Kampung Lawanggintung benteng ini bersambung dengan benteng alam yaitu puncak tebing Cipaku yang curam sampai di lokasi Stasiun Kereta Api Batutulis. Dari sini, batas Kota Pakuan membentang sepanjang jalur rel kereta api sampai di tebing Cipakancilan setelah melewati lokasi Jembatan Bondongan. Tebing Cipakancilan memisakan ujung benteng dengan benteng pada tebing Kampung Cincaw.

Tentu sudah banyak perubahan yang terjadi.  Jadi gambaran yang disampaikan Saleh di atas bisa saja sudah berubah jauh.

Ada yang berminat merekontruksi?



loading...

Komentar