Goa Selarong – Info Rute, Sejarah, Misteri & Tiket 4/5 (1)

Gua Selarong adalah goa yang legendaris.  Ini karena Goa Selarong dulu digunakan sebagai benteng pertahanan oleh Pangeran Diponegoro pada saat mulai berkonfrontasi dengan Belanda pada tahun 1825.  Makanya, goa ini disebut juga Goa Diponegoro.

Saat ini, goa ini menjadi obyek wisata sejarah sekaligus religi yang banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai tempat.

Rute Menuju Gua Selarong

Goa Selarong terletak di Dusun Kembangputihan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Untuk menuju ke sini kita harus menggunakan kendaraan pribadi atau carteran, karena tidak ada kendaraan umum yang lewat.  Namun tak perlu khawatir, karena jalannya sudah beraspal mulus.

Ada bebeberapa rute yang bisa digunakan.  Yang paling mudah adalah via Masjid Agung Bantul ke arah barat, kemudian dilanjutkan menuju jalan Selarong. Atau apabila masih bingung, Anda bisa meminta bantuan mbah Google. Mudah kan?

Goa Selarong, Bantul Yogyakarta

Goa Selarong, Bantul Yogyakarta

Sejarah Goa Selarong

Dijadikan Markas Perjuangan

Setelah meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Asisten Residen Chevallier pada 21 Juli 1825, Pangeran Diponegoro sempat menyingkir ke beberapa tempat.  Selanjutnya ia menuju Selarong.

Di sini beliau dan para pembantunya membangun sebuah markas perjuangan.  Daerah Selarong dinilai strategis karena terletak di kaki bukit kapur yang bergoa-goa.  Jaraknya sekitar 9 kilometer dari kota Yogyakarta.

Apalagi kemudian banyak juga kaum bangsawan yang simpati dan bergabung. Mereka terdiri dari keturunan Hamengkubuwono I, Hamengkubuwono II dan Hamengkubuwono III hingga berjumlah 77 orang plus para pembantunya.

Mereka antara lain: Pangeran Mangkubumi, Pangeran Panular, Pangeran Adinegoro, Kyai Mojo, Adiwinoto Suryodipuro,  Pangeran Ronggo, Pangeran Surenglogo dan Ngabei Mangunharjo yang nantinya ditunjuk sebagai panglima-panglima militer dalam pasukan Diponegoro.

Persiapan Perang

Untuk memperkuat posisinya, Diponegoro memerintahkan pembantu-pembantunya yang bernama Joyomenggolo, Bahuyudo, dan Honggowikromo untuk memobilisasi penduduk sekitar.

Beliau juga menulis surat ke masyarakat Kedu untuk bersiap perang.  Pada saat itu, Kedu sudah dirampas oleh Belanda dari Kesultanan Yogyakarta.

Pada Juli 1825, di Selarong telah terbentuk beberapa batalion pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Wiromenggolo, Sentot Prawirodirjo dan Ngabei Joyokusumo. Pasukan tersebut dengan cepat menguasai hampir seluruh pinggiran kota.

Markas Selarong sendiri dipimpin oleh lima serangkai, yaitu Pangeran Diponegoro sebagai pemimpin utama, Pangeran Mangkubumi sebagai penasehat dan bertanggung jawab dama kerumahtanggan, Ngabei Joyokusumo dan Sentot Alibasah sebagai panglima dan pengatur siasat perang, serta Kyai Mojo sebagai penasehat rohani.

Gua Selarong

Salah satu sudut Goa Selarong

Menyerang Yogyakarta

Pada tanggal 25 Juli 1825, Pasukan Belanda pimpinan Kapten Bouwes menyerang Selarong. Serangan ini dihadang oleh Pasukan Pangeran Diponegoro di Logorok dekat Pisangan Yogyakarta, sehingga 215 pasukan Belanda menyerah.

Selanjutnya, pada 7 Agustus 1825, Pasukan Diponegoro menyerang Kota Yogyakarta dengan kekuatan sekitar 6.000 orang. Pasukan tersebut berhasil menguasai kota, meski kemudian Pangeran Diponegoro memutuskan tidak menduduki keraton.

Sultan Hamengkubowono V sendiri berhasil lolos ke Benteng Vrederburg dengan pengawalan ketat.

Belanda kemudian menugaskan Letnan Jenderal H.M. De Kock sebagai komisaris pemerintah untuk Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang diberikan hak istimewa di bidang militer maupun sipil.

Pindah ke Dekso

Untuk meredam perlawanan Diponegoro, De Kock menulis surat ajakan berunding kepada sang pangeran, namun ditolak dengan tegas. Sehingga kemudian diputuskan untuk menyerbu Selarong.

Penyerbuan dilakukan beberapa kali, yaitu antara lain pada bulan September 1825 di bawah pimpinan Mayor Sellwinj dan Letnan Kolonel Achenbac serta tanggal 4 November 1825.

Pada serangan terahir, pasukan Diponegoro memutuskan mundur dari Selarong dan berpencar ke berbagai daerah. Pusat perlawanan berpindah ke Dekso.

Misteri Goa Selarong

Dengan besarnya nilai sejarah yang ada pada Gua Selarong tersebut, menjadikan lokasi ini banyak dikunjungi wisatawan, terutama pada akhir pekan dan di hari-hari libur. Selain juga karena kondisi alamnya yang masih asri.

Goa-goa kapur tempat persembunyian itu kini digelayuti akar-akar pepohonan berusia ratusan tahun. Ini membuat kesan Goa Selarong angker.

Beberapa fasilitas pendukung telah dibangun di sekitar ataupun di dalam goa, dengan tetap mempertahankan keaslian dari peninggalan sejarah tersebut.

Salah satunya adalah anak tangga sebagai jalur akses untuk mencapai goa yang berada di atas bukit. Di kaki bukit dibangun taman bermain, seperti ayunan dan jungkat-jungkit, untuk melepas lelah setelah menapaki puluhan anak tangga.

Asal-usul Goa Selarong

Ada dua buah goa utama di kompleks Goa Selarong. Yang pertama dinamakan Goa Kakung yang dulu digunakan oleh Pangeran Diponegoro dan yang kedua Goa Putri, yang digunakan oleh selir beliau yang bernama Raden Ayu Retnaningsih.

Goa tersebut sebenarnya adalah cekungan yang berada pada tebing yang kemudian dipahat agar bisa ditinggali.  Kini, di depan kedua goa sudah dipasang pagar pembatas dari besi.

Terdapat juga sebuah air terjun kecil di depan Goa Putri. Sayangnya, air terjun tersebut hanya akan dialiri air pada saat musim penghujan.

Di puncak bukit, atau di atas Goa Putri dibangun gardu dimana kita bisa melihayt hamparan hijau pepohonan di dareah Pajangan.

Di kompleks ini juga kita bisa membeli oleh-oleh berupa buah-buahan yang dijajakan oleh ibu-ibu sepuh, seperti jambu air, sawo dan jambu biji merah.  Terdapat pula para pengrajin kipas dan mebel antik di dekat parkiran.

Harga Tiket Masuk

Harga tike masuk ke Goa Selarong adalah sebesar 6 ribu rupiah plus parkir 5 ribu rupiah (Mei 2018). Dengan catatan, harga ini bisa berubah  sewaktu-waktu ya.  Selamat berwisata!

Referensi:

  1. Wikipedia
  2. Mas Bei

Berikan penilaian Anda!