Museum Geologi Bandung – Sejarah, Koleksi, Jam Operasional & Tiket 2018

Museum Geologi Bandung merupakan salah satu destinasi wisata edukasi yang populer di Kota Bandung dan sering dijadikan sebagai tujuan untuk kegiatan study tour pelajar.

Museum ini menampilkan berbagai koleksi geologi dan paleontologi yang penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Beberapa koleksi unggulan diantaranya yaitu fosil gajah purba, fosil manusia purba Homo Erectus, dan berbagai artefak lainnya.

Bagaimana sejarah dan perkembangan museum ini, dan apa saja aktivitas yang dilakukan, mari kita ulas!

Sejarah Museum Geologi Bandung

Awal Pembentukan

Museum Geologi Bandung

Museum Geologi Bandung

Pembangunan Museum Geologi Bandung berawal dari sebuah insitusi bernama Dienst van het Mijnwezen yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1850.

Lembaga tersebut berfungsi melakukan eksplorasi mineral.

Semula kantornya berada di Jakarta.  Kemudian berpindah ke Bogor pada tahun 1852.

Pada tahun 1866 lembaga itu kembali dipindahkan ke Jakarta dan kemudian diubah namanya menjadi Dienst van Mijnbouw pada tahun 1922.

Pada tahun 1924, Dienst van Mijnbouw berpindah kantor ke Bandung.  Tepatnya ke bangunan yang menjadi Gedung Sate sekarang.

Tahun 1928, di dekatnya, yaitu di Rembrandt Straat/Wilhemina Boulevard atau sekarang Jalan Diponegoro, dibangun perkantoran untuk Geologisch Laboratorium

Gedung tersebut diresmikan bertepatan dengan pembukaan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-IV, 16 Mei 1929, di Rechts-hogeschool (Jakarta), dan Technische Hogeschool (Bandung – ITB sekarang).

Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai hari-jadi Museum Geologi Bandung.

Masa Penjajahan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang, Gedung Geologisch Laboratorium diubah namanya menjadi KOGYO ZIMUSHO lalu diubah lagi menjadi CHISHITSU CHOSACHO.

Pada masa itu, tidak banyak penambahan koleksi terjadi.  Bahkan banyak dokumen penelitian dibakar ketika pasukan Jepang mengalami kekalahan di mana-mana di awal tahun 1945.

Koleksi Batuan Museum Geologi Bandung

Koleksi Batuan Museum Geologi Bandung (Gambar: Edo Yanuar)

Masa Kemerdekaan

Pasca merdeka atau kurun waktu 1945 – 1950, pengelolaan Museum Geologi berada di bawah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG).

Ketika pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda memasuki Bandung, mereka berusaha merebut kembali kantor PDTG dari pemerintah Indonesia.

Hal itu memaksa PDTG memindahkan kantornya ke Jl. Braga No. 3 dan No. 8, Bandung, pada tanggal 12 Desember 1945.  Sementara, di kantor yang lama pasukan Belanda mendirikan Geologische Dienst.

Karena keamanan yang tidak stabil, sampai tahun 1949, kantor PDTG berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya sekaligus menyelamatkan dokumen-dokumen hasil penelitian geologi.

Dari Bandung, sempat ke Tasikmalaya, Solo, Magelang dan Yogyakarta. Baru pada tahun 1950 dokumen-dokumen tersebut dapat dikembalikan ke Bandung.

Dalam usaha penyelamatan dokumen-dokumen tersebut, Kepala PDTG, Arie Frederic Lasut, gugur oleh tentara Belanda pada tanggal 7 Mei 1949 di Desa Pakem, Yogyakarta.

Setelah kondisi berangsur stabil, Museum Geologi mulai mendapat perhatian dari pemerintah RI ditandai dengan kunjungan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1960.

Saat ini tidak ada lagi PDTG. Pengelolaan museum berada di bawah Pusat Survei Geologi.

Pada tahun 1999 Museum Geologi direnovasi menggunakan dana bantuan dari Jepang dan diresmikan pembukaannya kembali pada 20 Agustus 2000.

Berdasarkan penataan yang beru tersebut, Museum Geologi dibagi menjadi 3 ruangan, yaitu Sejarah Kehidupan, Geologi Indonesia, serta Geologi dan Kehidupan Manusia.

Koleksi Museum Geologi Bandung

Koleksi Museum Geologi Bandung

Koleksi Museum Geologi Bandung (Gambar: Edo Yanuar)

Secara umum, isi museum geologi bandung dibagi menjadi dua, yaitu yang berada di ruang penyimpanan (storage collection) dan yang dipamerkan untuk umum (exibited collection).

Berdasarkan waktu pengumpulannya, koleksi tersebut bisa menjadi tiga ketegori, yaitu koleksi lama (1850-1945), koleksi pengembalian dari Utrecht University (2000), serta koleksi dari hasil penelitian-penelitian baru.

Dari segi jumlah, Museum Geologi Bandung memiliki 353.732 koleksi, terdiri atas 219.538 fosil, 21.311 artefak, dan 112.883 batuan.

Dari jumlah tersebut, koleksi yang dipamerkan kepada masyarakat umum hanya sebanyak 1.999 koleksi.

Beberapa koleksi Museum Geologi Bandung bernilai sangat tinggi dari sisi ilmu pengetahuan khususnya paleontologi.  Misalnya fosil dari Ngandong yang ditemukan oleh Von Koenigswald (1934).

Juga fosil specimen Sangiran 17 (Pithecanthropus VIII) dari Desa Pucung, Sangiran, Jawa Tengah (1969) yang diklaim sebagai  fosil Homo erectus terlengkap di Asia.

Selain fosil hominid, Museum Geologi Bandung juga dikenal dengan fosil vertebrata gajah purba yaitu jenis Stegodon trigonocephalus, Sinomastodon bumiajuensis yang lebih dikenal dengan nama Mastodon; dan fosil gajah Blora (Elephas hysudrindicus).

Aktivitas Wisata Yang Bisa Dilakukan

Pengunjung Museum Geologi Bandung

Pengunjung Museum Geologi Bandung (Gambar: Jayeng Permana)

Di Museum Geologi ini kita juga bisa melakukan berbagai aktivitas menarik.  Jadi tidak sekedar melihat-lihat koleksi.

Beberapa aktivitas tersebut antara lain:

Belajar Geologi

Fungsi utama museum ini salah satunya jelas adalah menyediakan sarana edukasi murah meriah khususnya tentang ilmu geologi.

Tak heran bila sebagai besar pengunjungnya adalah pelajar, terutama sekolah dasar hingga menengah atas.

Di sini mereka dapat melihat dan mempelajari jenis-jenis batuan dan mineral, proses pembentukannya hingga pemanfaatan yang biasa dilakukan, kebencanaan dan lain-lain.

Night at The Museum

Judulnya mengingatkan kepada film Hollyowood yang cukup sukses hingga dibuat beberapa sekuelnya.

Bisa jadi, kegiatan ini diilhami dari film tersebut, meski tentu saja aktivitas yang dilakukannya berbeda.

Acara ini digelar pertama kali pada tahun 2015 bertepatan dengan peringatan Hari Pertambangan dan Energi Nasional.  Dan selanjutnya dilakukan secara rutin setiap bulannya.

Jadwalnya diumumkan melalui twitter resmi Museum Geologi Bandung, yaitu: @geomuzee.

Melalui kegiatan ini, kita akan diajak untuk merasakan sensasi malam di museum seperti pada film yang disebutkan di atas.

Apalagi di sini juga tersimpan rangka dinosaurus besar.  Namun jangan khawatir karena tentu saja tidak akan hidup seperti yang dialami oleh Ben Stiller di film itu.

Museum 3D

Ruangan museum 3D ini berada di ujung barat museum dimana di sini kita dapat melihat rangkaian gambar tiga dimensi bertema prasejarah.

Saya sendiri sangat senang dengan fasilitas ini karena kita bisa mempelajari kehidupan masa lampau dengan lebih nyata.

Kita juga dapat mengambil gambar yang hasilnya bisa dicetak langsung sebagai souvenir.

Wisata Kuliner

Setelah capek keliling-keliling mengikuti acara Night at The Museum, kita bisa menikmati berbagai  makanan ringan di area food bazaar.

Ada berbagai camilan yang dijual di beberapa tenda berjajar yang bisa dimakan di sana ataupun dibawa pulang.

Fosil Gajah Purba di Museum Geologi Bandung

Fosil Gajah Purba di Museum Geologi Bandung (Gambar: Audia Antaria)

Penggalian Fosil

Kegiatan ini ditujukan untuk mengenalkan proses penggalian fosil dan cara melakukan rekontruksinya kepada anak-anak.

Jadi dalam kegiatan ini mereka akan diminta untuk menggali beberapa replika fosil yang tersembunyi dalam sebuah kolam pasir.

Setelah fosil-fosil tersebut ditemukan, kemudian mereka diajari untuk merekontruksinya sehingga menyerupai binatang tertentu.

Tentu saja, ini sangat menarik bagi anak-anak. Selain bermain-main, juga unsur edukatifnya sangat kental.  Mereka diajari untuk kreatif dan cermat.

Taman Batu

Yang disebut dengan Taman Batu adalah puluhan batu yang dikelompokan berdasarkan jenisnya.

Batu-batu tersebut juga dilengkapi dengan nama dan lokasi penemuannya.

Semisal batu marmer dari Sukabumi, batu sabak dari Banten, batu gamping dari Klaten, dan sebagainya.

Dari sini kita dapat menambah khasanah pengetahuan kita tentang jenis-jenis batu yang ada di Indonesia dan bagaimana pembentukannya.

Menyaksikan Fosil Dinosaurus

Salah satu yang paling menarik di sini adalah adanya beberapa fosil dinosaurus seperti gajah purba (stagadon), mamut dan T-Rex.

Berfoto

Kegiatan ini adalah aktivitas wajib hari-hari ini.  Ya, berfoto pada spot-spot menarik seperti digambarkan di atas, kemudian membagikannya ke sosial media disertai dengan caption yang menarik.

Tentu saja, aktivitas ini harus dilakukan dengan sewajarnya agar tidak mengganggu pengunjung yang lain.

Fasilitas di Museum Geologi Bandung

Beberapa fasilitas lain yang disediakan oleh Museum Geologi Bandung yaitu auditorium untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan seperti seminar, ceramah, pemutaran film dan sebagainya.

Ada ruang edukasi berkapasitas 40 orang yang biasa digunakan untuk berdiskusi.

Ada juga toko souvenir yang menyediakan berbagai cinderamata yang berhubungan dengan geologi, seperti kaos, gantungan kunci, buku dan sebagainya.

Koleksi Fosil Manusia Purba Museum Geologi Bandung

Koleksi Fosil Manusia Purba Museum Geologi Bandung (Gambar: Muslim Syamsul Bahri)

Alamat Museum Geologi Bandung

Museum Geologi Bandung berlokasi di tengah-tengah kota Bandung, yaitu di Jalan Diponegoro No.57, Bandung, Jawa Barat 40122.

Lokasinya tersebut hanya beberapa meter dari Gedung Sate sebagai pusat pemerintahan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Selain pada alamat tersebut, Museum juga bisa dikontak melalui alamat-alamat berikut:

Nomor telepon:  (022)7203822.

email [email protected]

Twitter: @geomuzee

Untuk menuju museum, ada dua jalur yang bisa digunakan, yaitu melalui pintu selatan dan melalui pintu utara.

Apabila menggunakan angkutan umum, kedua jalur tersebut dilewati dengan Angkutan Kota jurusan Cicaheum-Ledeng.

Tiket Museum Geologi Bandung 2018

Sesuai dengan fungsinya sebagai salah satu sarana edukasi,  tiket masuk ke museum ini sangat murah, yaitu Rp2 ribu untuk pelajar dan Rp3 ribu untuk umum.

Sementara untuk pengunjung mancanegara harga Museum Geologi Bandung tiket dipatok lebih tinggi, yaitu Rp10 ribu rupiah per orang.

Jam Operasional Museum Geologi Bandung

Museum Geologi Bandung buka 6 hari dalam seminggu. Namun jam bukanya berbeda.

Bila Anda berkunjung pada hari Senin hingga Kamis, Anda bisa memilih antara pukul 09.00  sampai pukul 15.30 WIB.

Namun bila hari Sabtu dan Minggu, pastikan Anda berkunjung antara pukul 09.00 sampai pukul 13.30 WIB.

Sedangkan hari Jumat dan hari libur nasional, museum ini tidak beroperasi alias tutup.

Berikan penilaian Anda!