Pohon Kepuh – Sarang Genderuwo yang Berkhasiat Obat

Pohon Kepuh

Pohon Kepuh

Alampriangan.comPOHON kepuh memiliki punya ciri khas batang yang besar dan menjulang tinggi. Bentuk buahnya pun besar dan aneh.

Di Jawa dan Bali, pohon ini banyak ditemukan di tempat-tempat yang dianggap keramat, semisal areal pemakaman, punden atau lokasi-lokasi sakral lainnya.

Bentuk dan lokasi tumbuhnya itu membuat Kepuh d kerap disebut sebagai Pohon Genderuwo.

Kepuh atau pranajiwa, adalah sejenis pohon tahunan dengan nama ilmiah Sterculia foetida Linn.

Di dalam bahasa Inggris, pohon kepuh punya sebutan “wild almond”, sebab bentuk bijinya memang seperti biji almond. Rasa buahnya gurih dan berlemak.

Habitat kepuh adalah dari daerah-daerah dataran rendah hingga ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Terutama di daerah kering.

Di dunia, Kepuh ini tersebar luas mulai dari Afrika bagian timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, Kepulauan Nusantara hingga Australia. Namun diperkirakan asal-usul kepuh adalah dari Afrika tropis.

Nama Lain Pohon Kepuh 

Di nusantara, kepuh punya nama yang berbeda-beda. Misalnya, halumpang (Batak); kepoh, koleangka (Sunda); kepuh, kepoh, jangkang (Jawa); jhangkang, kekompang (Madura); kepuh, kepah, kekepahan (Bali).

Kepoh, kelompang, kapaka, wuka, wukak (NTT); bungoro, kalumpang (Makassar); alumpang, alupang, kalupa (Bugis); dan kailupa furu, kailupa buru (Maluku). Juga ada yang menyebut sebagai kabu-kabu, kalupat, lepong, kelumpang jari.

Kepuh termasuk kerabat jauh kapuk randu. Nama marganya diambil dari Sterculius atau Sterquilinus, yaitu nama dewa pupuk dalam mitologi Romawi.

Sedangkan nama spesiesnya, yaitu foetida berarti berbau keras atau busuk. Nama ilmiah kepuh tersebut merujuk kepada bau tidak enak yang dikeluarkan oleh pohon ini, terutama dari bunganya.

Ciri-ciri Pohon Kepuh

Pohon kepuh mempunyai batang yang tinggi dan besar. Tingginya bisa mencapai 40 meter dan diameter batang bagian bawah pohon ini dapat mencapai 3 meter.

Cabang-cabang kepuh tumbuh mendatar dan berkumpul pada ketinggian yang kurang lebih sama, secara bertingkat-tingkat.

Daun pohon kepuh merupakan daun majemuk menjari, berbentuk jorong dengan ujung dan pangkal yang runcing. Di waktu-waktu tertentu, pohon ini menggugurkan daunnya.

Bunga kepuh terdapat di bagian ujung batang atau ranting. Pada awalnya, bunga kepuh tersebut berwarna kuning keabu-abuan, kemudian menjadi merah.

Biji kepuh berjumlah 10 hingga 15 butir per buah. Warnanya kehitaman, dan melekat dengan aril berwarna kuning. Panjangnya 1,5 cm – 1,8 cm.

Buah kepuh berbentuk besar agak lonjong, berukuran 7-9 cm dengan lebar sekitar 5 cm. Kulit buah tebal dan keras dengan warna merah kehitaman.

Loading...
Buah Kepuh

Buah Kepuh

Pohon Genderuwo?

Yang unik, di beberapa daerah, pohon kepuh dinamakan juga sebagai pohon genderuwo dan buahnya pun disebut buah genderuwo.

Mungkin karena bentuk pohon dan buahnya yang besar serta hanya tumbuh di tempat-tempat angker.

Berkhasiat Obat

Namun, di balik mitos yang melingkupinya, ternyata pohon genderuwo ini memiliki berbagai manfaat bagi manusia.

Hampir semua bagian tanaman tersebut, mulai dari kulit batang, daun, hingga buah dan bijinya, sering dimanfaatkan sebagai campuran jamu.

Daun Kepuh

Daun Kepuh

Kulit pohon dan daun kepuh dapat digunakan sebagai obat untuk beberapa penyakit seperti rheumatic, diuretic, dan diaphoretic.

Kepuh juga dapat bermanfaat meringankan rasa sakit pada kaki atau tangan yang terkilir. Bagian yang dimanfaatkan sebagai tapal adalah daunnya.

Daun kepuh juga digunakan untuk mengobati demam serta mencuci rambut. Kulit kayunya jika diseduh dapat juga digunakan sebagai obat penggugur kandungan (abortivum).  Kulit buah Kepuh juga dapat digunakan sebagai bahan ramuan untuk membuat kue.

Manfaat Lain Kepuh

Kulit buah kepuh yang tebal dibakar hingga menjadi abu digunakan untuk memantapkan warna yang dihasilkan oleh kesumba.

Abu kulit buah dan buah kepuh serta kembang pulu dapat memberikan warna merah. Air rendaman abu ini juga digunakan sebagai obat penyakit kencing nanah.

Buah kepuh, jeruk, kunyit, dan kembang pulu juga menghasilkan warna jingga.

Kayu kepuh kurang baik untuk digunakan sebagai bahan bangunan, karena sifatnya yang mudah rusak.  Biasanya digunakan untuk membuat biduk, peti pengemas dan batang korek api.

Namun, pohon kepuh yang tua dapat menghasilkan kayu teras bergaris-garis kuning yang cukup baik untuk membuat perahu dan peti mati. Bahkan, mungkin juga cocok untuk bahan mebel.

Biji-biji kepuh dapat disangrai untuk dimakan atau dibuat sambal.

Selain itu, biji kepuh mengandung minyak nabati yang terdiri dari asam lemak, yaitu asam sterkulat yang dapat dimanfaatkan sebagai ramuan kosmetik, sabun, shampo, pelembut kain, pewarna alami, dan plastik.

Asam lemak minyak Kepuh itu juga dapat digunakan sebagai zat adaptif biodiesel (biofuel). Bahkan, sejak dulu masyarakat di sejumlah daerah mengolah biji kepuh itu untuk diambil minyaknya.

Minyak kepuh digunakan sebagai minyak lampu maupun minyak goreng. Di Kangean, Madura minyak kepuh dipakai sebagai malam untuk membatik.

Mikro Habitat Hewan

Secara ekologis, kepuh juga berfungsi sebagai mikro habitat hewan tertentu. Misalnya sebagai tempat bersarangnya burung kakak tua jambul kuning (Cacatua subphurea parvula) seperti yang terjadi di Taman Nasional Komodo.

Selain itu, karena memiliki tajuk dan perakaran yang cukup besar, kepuh dapat berfungsi sebagai pengatur siklus hidrologi.

Klasifikasi Pohon Kepuh
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Ordo : Malvales
Famili : Sterculiaceae
Genus : Sterculia
Spesies : Sterculia foetida L



loading...

Komentar