4 Jalur Pendakian Gunung Ciremai – Rute & Total Waktu 5/5 (1)

Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) adalah sebuah hutan koservasi yang terletak di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Ada 4 jalur pendakian Gunung Ciremai yang biasa digunakan para pecinta alam untuk mencapai puncak gunung tersebut.

Tertinggi di Jawa Barat

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian sekitar 3.073 meter di atas permukaan laut.  Gunung ini digolongkan ke dalam gunung soliter, maksudnya gunung yang terpisah dengan gunung-gunung lainya.

Taman Nasional Gunung Ciremai dibentuk pada tahun 2014 berdasarkan SK Menhut RI No. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004.

Awalnya, hutan ini merupakan Hutan Lindung. Pembentukan TNCG dimaksudkan untuk memberikan perlindungan terhadap kekayaan hayati yang berada di wilayah Gunung Ciremai.

Kawah Gunung Ciremai, Jalur Pendakian Gunung Ciremai

Kawah Gunung Ciremai

Luas dan Batas Lokasi

Sesuai dengan SK Menteri Kehutanan tersebut di atas, luas Taman Nasional Gunung Ciremai adalah sekitar ±15.500 Ha.

Sebagian besar, kawasan TNGC masuk ke dalam wilayah Kabupaten Kuningan, yaitu seluas 8.931,27 ha.  Sebagian lagi yaitu seluas 6.927,9 ha menjadi wilayah Kabupaten Majalengka.

Di utara, kawasan TNGC berbatasan dengan Kabupaten Cirebon. Batas sisi di bagian timur berada di Kecamatan Cilimus, Kramatmulya dan Jalaksana.

Sementara di selatan, batas-batasnya terletak di Kecamatan Nusaherang, Cigugur, Kadugede, serta Darma. Dan di sebelah barat masuk wilayah Majalengka.

4 Jalur Pendakian Gunung Ciremai

Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai adalah salah satu tujuan favorit para pendaki.  Saya sendiri pernah melakukan pendakian pada saat SMA, atau sekitar pertengahan dekade 90-an.

Ada empat jalur yang bisa digunakan untuk mencapai ke puncak. Yaitu Jalur Palutungan, Jalur Linggajati, Jalur Apuy dan Jalur Padabeunghar.

Dari keempatnya, yang paling populer serta paling mudah aksesnya yaitu jalur Palutungan. Jalur ini disarankan untuk para pendaki pemula karena jalurnya relatif landai, meski jaraknya memang lebih panjang.

Jalur Palutungan

Jalur pendakian Gunung Ciremai ini, dari kota Kuningan bisa menggunakan angkutan umum menuju Resort Cigugur atau Kantor Taman Nasional Gunung Ciremai di Desa Palutungan.

Keuntungan melalui jalur ini yaitu, karena sudah sangat populer maka untuk akomodasi mudah tersedia. Syaratnya, jangan malu bertanya.

Oya, sebelum mendaki kita harus mendaftarkan diri terlebih dulu untuk mendapatkan Surat Izin Masuk Kawasan Koservasi (SIMAKSI).  Tempat pendaftarannya di Kantor TNGC tadi.  Biayanya sebesar Rp50 ribu.

Melalu jalur ini kita akan melewati 8 pos, yaitu Palutungan, Cigowong, Kuta, Pangguyangan Badak, Arban, Tanjakan Asoy, Pasanggrahan, Sanghyang Ropoh, Gua Walet dan Puncak.

Total waktu pendakian adalah sekitar 8 – 9 jam. Biasanya pendakian dilakukan pada malam hari.

Baca juga: 

Jalur Linggarjati

Jalurjalur pendakian Gunung Ciremai kedua adalah Jalur Linggarjati.  Masih di Kabupaten Kuningan, ini adalah jalur yang saya gunakan dulu.

Daerah ini sangat terkenal karena di sana terdapat Museum Linggarjati yang pernah digunakan sebagai tempat perundingan antara delegasi Indonesia pada tahun 1946 dulu.

Di sini ini juga terdapat Taman Linggajati Indah yaitu tempat rekreasi seluas 11 hektar dengan berbagai wahana di dalamnya.

Untuk menuju ke sini juga cukup mudah.  Anda bisa menggunakan kendaraan umum yang menuju Desa Linggarjati lalu turun di pertigaan Linggarjati. Selanjutnya menuju Pos Pendakian Linggasana dimana pendakian gunung Ciremai via Linggarjati dimulai.

Melalui jalur ini kita akan melewati 11 pos.  Yaitu Linggasana, Cibunar, Leuweung Datar, Kondang Amis, Kuburan Kuda, Pangalap, Tanjakan Seruni, Bapa Tere, Batu Lingga, Sangga Buana, Pangasinan dan Puncak.  Total waktu yang dibutuhkan untuk mendaki sekitar 11 – 12 jam.

Jalur Apuy

Jalur pendakian Gunung Ciremai Apuy ini melalui kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai yang berada di Kabupaten Majalengka.  Transportasi menuju ke sini juga tidak sulit.

Dari terminal Majalengka bisa memakai angkot, minibus elf atau angkutan umum lain menuju perempatan Kadipaten. Lalu menuju Apuy. Di basecamp Apuy ini kita mendaftarkan diri untuk mendapat SIMAKSI.

Ada 7 pos yang dilalui melalui jalur ini, yaitu Berod, Arban, Tegal Masawa, Tegal Jamuju, Sanghyang Rangkah, Goa Walet dan Puncak Ciremai.  Total waktu pendakian sekitar 7 jam diluar istirahat dan bermalam.

Jalur Padabeunghar

Desa Padabeunghar terletak di perbatasan antara Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka. Jalur jalur pendakian Gunung Ciremai ini termasuk jalur yang jarang digunakan oleh pendaki.

Vegetasi di Gunung Ciremai, Jalur Pendakian Gunung Ciremai

Vegetasi di Gunung Ciremai

Flora dan Fauna di TNGC

Sesuai ketingguannya, di Gunung Ciremai ini terdapat beberapa tipe hutan, yaitu hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan atas  serta hutan subalpin.  Beberapa wilayah yang tidak berpohon di temukan di seputar puncak serta kawah.

Lebih jauh, berdasar pada situasi iklim mikronya, LIPI (2001) membedakan lingkungan Ciremai berdasarkan dataran tinggi basah serta dataran tinggi kering.

Juga sebagai misal, hutan di lokasi Resort Cigugur (jalur Palutungan, sisi selatan gunung) termasuk juga beriklim mikro basah, serta di Resort Setianegara (samping utara jalur Linggarjati) beriklim mikro kering.

Di sana juga banyak terdapat hewan liar seperti anjing gunung (ajag), elang jawa, macan tutul, kera, kijang, lutung dan satwa endemik lainnya.

Misteri-misteri dan Pantangan

Misteri yang paling populer di Gunung Ciremai adalah kisah tentang Nini Pelet yang juga pernah disinetronkan pada tahun 2000-an.

Konon, gunung ini adalah tempat bertamanya Nini Pelet. Ada juga beberapa pendaki yang mendengar suara gamelan di atas gunung.  Mungkin saja ini halusinasi karena kondisi badan yang sedang lelah.

Pos Batu Lingga juga dikatakan angker, karena pernah menjadi tempat persemedian Nyi Linggi beserta dua ekor macan kumbang peliharaannya.  Konon Nyi Linggi kemudian meninggal di sana dan arwahnya masih bersemayam di Batu Lingga.

Beberapa pendaki juga pernah bertemu dengan hantu kuntilanak, yaitu berwujud wanita berjubah putih dan rambut panjang yang ampir menutupi seluruh wajahnya.

Selain misteri-misteri tersebut, ada beberapa pantangan yang sebaiknya tidak diabaikan oleh para pendaki.  Yaitu jangan buang air kecil sembarangan. Makanya jangan heran bila di sepanjang jalur pendakian kadang ditemukan botol minuman berisi air seni.

Selain itu kita dianjurkan untuk menginjak tanah 3 kali untuk mengusir mahluk halus. Boleh percaya atau tidak.  Yang penting kita harus berhati-hati ketika melakukan pendakian.

Berikan penilaian Anda!