Wisata Religi ke Gunung Gombong Sukabumi

Gunung Gombong Sukabumi

Gunung Gombong Sukabumi

BOSAN dengan destinasi wisata biasa? Mungkin Anda bisa mencoba wisata religi yang ada di wilayah Sukabumi ini, yatu di Situs Gunung Gombong. Di sana Anda dapat berziarah ke makam Syech Maulana Mansyuruddin yang terdapat di areal tersebut.

Situs ini berada di Dusun Pasir Hideung, Desa Cijurey, Kecamatan Geger Gintung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Menempati areal seluas 131,87 Hektar yang didominasi peopohonan Rasamala, Mahoni, Puspa dan Pinus ini juga menjadi tempat hunian sejumlah satwa yang dilindungi semisal owa jawa, elang, babi hutan, burung perkutut dan kakaktua.

Fasilitas yang ada di Gunung Gombong, selain masjid, juga terdapat maqom, tempat dzikir/bertawasul, MCK, tempat sampah, dan jalan setapak.

Bukit Besar

Meski dinamakan gunung, Gunung Gombong sebenarnya lebih tepat dikatakan bukit besar. Lokasinya berada di pegunungan di antara perbatasan Kabupaten Cianjur dengan Sukabumi, tepatnya di Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi.

Dari pusat Kota Sukabumi, jaraknya kurang lebih 20 km. Bukit ini merupakan lokasi di antara perjalanan ke arah Gunung Gede.

Topografinya yang lumayan tinggi dan berbukit menyajikan pemandangan alam yang indah dilingkupi pepohonan berusia ratusan tahun. Di sini juga terdapat sebuah air terjun yang indah.

Namun, yang paling menarik adalah karena di areal ini terdapat makam Syech Aulia Maulana Mansyuruddin yang dikeramatkan.

Konon dejak tahun 1850, banyak peziarah yang datang serta menggelar pengajian di makam itu. Mereka tidak hanya berasal dari sekitar Sukabumi, tetapi banyak yang dari Jawa, Jakarta, Banten, bahkan dari jazirah Arab seperti Qatar, Quwait, dan Arab Saudi.

Terdapat perbedaan pendapat di seputar keberadaan makam ini. Ada yang mengatakan, makam yang terdapat di puncak Gunung Gombong tersebut adalah makam Syech Aulia Mahmud RA. Ada juga yang mengatakan, itu adalah tempat beliau bertirakat untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Terkait Kerajaan Banten

Syekh Maulana Mansyuruddin dikenal juga dengan nama Sultan Haji, sultan Banten ke-7 sejak tahun 1651. Beliau adalah putra Sultan Ageung Abdul Fatah Tirtayasa (Sultan Banten ke-6).

Konon, setelah menjabat sultan selama kira-kira 2 tahun, beliau berangkat ke Baghdad, Irak, untuk mendirikan negara Banten di sana. Kesultanan untuk sementara diserahkan kepada putranya, Pangeran Adipati Ishaq atau Sultan Abdul Fadhli.

Saat akan berangkat beliau diberi wasiat oleh Sultan Ageung Abdul Fatah. “Apabila hendak berangkat mendirikan negara di Baghdad, janganlah memakai seragam kerajaan, karena akan mendapat malu. Dan jangan mampir ke mana-mana. Harus langsung ke Baghdad, kecuali engkau mampir ke Mekkah. Dan sesudah itu langsung kembali ke Banten,” pesannya.

Di Baghdad, ternyata Sultan Maulana Mansyuruddin tak sanggup untuk mendirikan negara. Sehingga, ia pun mendapat malu.

Di dalam perjalanan pulang, Sultan Maulana Mansyuruddin lupa akan wasiat Ayahnya dan mampir di Pulau Menjeli yang terletak di kawasan Tiongkok. Ia menetap di sana selama kurang lebih dua tahun.

Di sana, Sultan Maulana Mansyuruddin menikah dengan seorang Ratu Jin dan memiliki satu putra.

Sultan Palsu

Sementara itu, selama Sultan Maulana Mansyuruddin berada di Pulau Menjeli, Sultan Adipati Ishaq yang diberi mandat untuk sementara mengelola Kerajaan, terbujuk oleh Belanda sehingga mengangkat diri sebagai Sultan.

Hal ini menimbulkan kemarahan Sultan Ageung Abdul Fatah sehingga memicu terjadinya kekacauan di Kesultanan Banten.

Di saat seperti itu, kemudian datang seseorang yang mengaku sebagai Sultan Maulana Mansyurudin turun dari kapal . Orang-orang di Kesultanan Banten – termasuk Sultan Adipati Ishaq – percaya orang itu adalah Sultan Maulana Mansyurudin yang telah pulang.

Namun, konon sebenarnya dia adalah raja pendeta keturunan dari Raja Jin yang menguasai Pulau Menjeli.

Loading...

Selama menjabat sebagai Sultan palsu, raja itu membawa kekacauan di Banten sehingga rakyat membenci Sultan dan keluarganya.

Sultan Ageung Abdul Fatah pun turun tangan untuk menghentikan kekacauan, dibantu oleh seorang ulama bernama Pangeran Buang (Tubagus Buang) dari Keraton Pekalangan Gede Banten. Ia adalah keturunan Sultan Maulana Yusuf (Sultan ke-2 Banten).

Lalu terjadilah pertempuran antara pasukan Sultan Maulana Mansyuruddin palsu dengan pasukan Sultan Ageung Abdul Fatah dan Pangeran Buang.

Namun Sultan Ageung Abdul Fatah dan Pangeran Buang kalah sehingga dibuang ke daerah Tirtayasa. Dari kejadian itu, rakyat Banten kemudian memberi gelar kepada Sultan Ageung Abdul Fatah sebutan Sultan Ageung Tirtayasa.

Pulang Ke Banten

Peristiwa tetsebut sampai juga ke telinga Sultan Maulana Mansyuruddin asli di Pulau Menjeli. Ia sadar dan teringat wasiat ayahandanya lalu memutuskan untuk pulang.

Sebelu menuju Banten, beliau pergi ke Mekkah untuk memohon ampunan kepada Allah SWT, karena telah melanggar wasiat ayahnya.

Di Mekkah beliau mendapatkan gelar Syekh. Dengan izin Allah, beliau menyelam di sumur zam-zam dan batu besar di dekat sebuah mata air. Lalu dengan menggunakan telunjuknya, batu tersebut ditulisi.

Kini batu itu berada di daerah Cibulakan Cimanuk Pandeglang Banten. Oleh masyarakat sekitar, batu itu dikeramatkan dan dikenal sebagai Keramat Batu Qur`an.

Setibanya di Banten dan membereskan semua kekacauan, ia memohon ampunan kepada ayahandanya, Sultan Ageung Tirtayasa. Akhirnya, Sultan Maulana Mansyuruddin kembali memimpin Kesultanan Banten.

Syiar Islam

Selain menjadi Sultan, beliau pun mensyiarkan Islam di daerah Banten dan sekitarnya.

Di dalam perjalanan mensyiarkan Islam, Sultan tiba di daerah Cikoromoy dan tinggal di sana sekian lama. Di tempat itu beliau menikah dengan Nyai Sarinten atau Nyi Mas Ratu Sarinten, dan memiliki seorang putra bernama Muhammad Sholih yang dijuluki Kiai Abu Sholih.

Konon Nyi Mas Ratu Sarinten memiliki rambut yang panjangnya melebihi tinggi tubuhnya. Suatu ketika, beliau terbentur batu kali pada saat mandi karena terpeleset menginjak rambutnya sendiri.

Nyi Mas Ratu Sarinten kemudian dimakamkan di Pasarean Cikarayu Cimanuk, Pandeglang, Banten.

Akibat peristiwa itu, Syekh Maulana Mansyuruddin melarang semua wanita keturunannya untuk mempunyai rambut yang panjangnya seperti Nyi mas Ratu Sarinten.

Sepeninggal Nyi Mas Ratu Sarinten, Syekh Maulana Mansyuruddin pindah ke daerah Cikaduen Pandeglang. Di sana, beliau menikah kembali dengan Nyai Mas Ratu Jamilah yang berasal dari Caringin Labuan.

Suatu hari, dalam perjalanan syiar di tengah hutan Pakuwon Mantiung, Sultan Syekh Maulana Mansyuruddin beristirahat di bawah sebatang pohon waru sambil bersandar. Tiba-tiba pohon tersebut menjongkok seperti seorang manusia yang menghormati. Sampai saat ini, konon di sana tidak ada pohon waru yang lurus.

Menolong Harimau

Ketika Syekh Maulana Mansyuruddin sedang beristirahat di bawah pohon waru itu, beliau mendengar suara harimau di pinggir laut. Setelah dihampiri, ternyata kaki harimau tersebut terjepit kima.

Melihat ada manusia di depannya, harimau tersebut pasrah dan merasa ajalnya telah dekat. Di dalam perasaan putus asa, harimau itu mengaum kepada Syekh Maulana Mansyuruddin. Atas izin Allah SWT, tiba-tiba Syekh Maulana Mansyuruddin dapat mengerti bahasa binatang.

Syekh lalu melepaskan kima yang menjepit kaki harimau itu. Setelah itu, sang harimau tersebut dibai`at oleh beliau lalu beliau berkata, ”Saya sudah menolong kamu, untuk itu saya minta kamu dan anak buahmu berjanji tidak mengganggu anak, cucu, dan semua keturunan saya.“

Harimau itu menyanggupi. Syekh Maulana kemudian memasangkan kalung surat Yasin di lehernya dan memberinya nama Si Pincang atau Raden Langlangbuana atau Ki Buyud Kalam.

Ternyata, harimau itu adalah salah seorang raja siluman dari semua 6 Pakuwon. Keenam Pakuwon itu adalah Ujung Kulon yang dipimpin oleh Ki Maha Dewa; Gunung Inten yang dipimpin oleh Ki Bima Laksana; Lumajang yang dipimpin oleh Raden Singa Baruang; Gunung Pangajaran yang dipimpin oleh Ki Bolegbag Jaya; Manjau yang dipimpin oleh Raden Putri; dan Mantiung yang dipimpin oleh Raden Langlangbuana atau Ki Buyud Kalam atau Si Pincang.

Setelah sekian lama menyiarkan Islam ke berbagai daerah di Banten dan sekitarnya, Syekh Maulana Mansyuruddin ke Cikaduen.

Akhirnya, tahun 1672 M Syekh Maulana Mansyuruddin wafat dan dimakamkan di Cikaduen Pandeglang, Banten. Tetapi ada juga yang meyakini ia dimakamkan di Gunung Gombong.

Hingga kini dua lokasi tersebut diziarahi dan dikeramatkan masyarakat.



loading...

Komentar